Selamat Datang :)

Blog ini merupakan catatan istimewa sri, ada opini, artikel, tugas kuliah, dan pengalaman yang ingin di share. Semoga ilmu ini bisa bermanfaat.. SEMANGAT!!

Selasa, 14 Juli 2015

Konsep Drainase : Swale

Tidak ada komentar:

Saluran ini berfungsi sebagai pembawa air hujan (small rain) dan umumnya memiliki kemiringan yang landai. Selain itu, dengan adanya saluran ini, kecepatan aliran permukaan dapat dikurangi karena limpasan yang melaluinya sebagian akan masuk ke dalam tanah melalui penyaringan dan infiltrasi. Saluran ini memungkinkan untuk terjadinya pengendapan sedimen sehingga dapat mengurangi polutan yang dibawa oleh limpasan tersebut. Saluran rumput efektif apabila kedalaman air minimum, sedangkan waktu tinggalnya maksimum. Stabilitas saluran rumput dan kemampuan pengurangan polutan dipengaruhi oleh erodibilitas tanah, kemiringan saluran, dan kerapatan tanaman.

Beberapa area sering menggunakan swale dalam desain drainase kawasannya. Kawasan yang penulis perhatikan menggunakan desain ini sebagian besar adalah kawasan taman. Salah satu contohnya adalah di daerah Taman Bunga Nusantara. Berikut merupakan swale yang berada di TBN Cipanas :
 
Selain itu di sepanjang jalan tol jagorawi menggunakan sistem swale di area badan jalannya. Namun sayangnya pelebaran ruas jalan mulai menggusur konsep drainase ini. Exit tol bogor masih mempertahankan sistem ini. Bila kita melewati daerah ini ketika sedang hujan dapat terlihat jelas aliran airnya. Namun bila hari tidak hujan maka saluran ini terlihat seperti taman berumput yang indah.

Di beberapa titik kawasan Universitas Indonesia juga menerapkan sistem swale.

Pemilihan bentuk drainase yang tepat dapat menambah aksen natural pada sisi landscape. Namun jangan pernah mengira bila pembuatan desain swale seperti ini ‘hanya yang penting ada saluran’. Pada dasarnya, dalam mendesain saluran drainase harus diperhatikan aspek-aspek seperti curah hujan, kemiringan, bentuk saluran, hingga material saluran. Pada desain swale yang diubah hanyalah faktor material saluran, namun faktor lainnya tetaplah sama.

Desain ini seharusnya dapat diaplikasikan pada konsep landscape suatu bangunan hijau. Terlebih lagi pada regulasi terakhir terkait kolam resapan dapat berbentuk saluran resapan. Swale merupakan salah satu bentuk saluran resapan.

Sabtu, 20 Juni 2015

Hidrologi : Pengelolaan Limpasan Hujan

Tidak ada komentar:

Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penataan air. Siklus hidrologi adalah sistem global yang menyediakan dan menghilangkan air dari permukaan bumi (Mackenzie L. Davis dan A. Cornwell,1998). Variabel hidrologi mencakup seluruh komponen dari daur hidrologi. Komponen daur hidrologi antara lain :
1. Curah Hujan
Curah hujan adalah banyaknya hujan yang turun pada suatu luasan tertentu yang dinyatakan dalam mm. Curah hujan yang diperoleh pada stasiun hujan kemudian dianalisa dengan analisa frekuensi untuk melihat sebaran yang ada. Analisa frekuensi adalah analisa yang dilakukan untuk menentukan atau memperkirakan kejadian curah hujan berdasarkan masa ulang peristiwa yang dapat diharapkan menyamai atau lebih besar dari pada rata-rata curah hujan. Pada analisa frekuensi hasil yang diperoleh tergantung pada kualitas dan panjang data, semakin pendek perhitungan data curah hujan, maka semakin besar penyimpangan yang terjadi.

2. Intensitas Hujan
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. Intensitas hujan menyatakan besarnya curah hujan dalam jangka pendek yang memberikan gambaran derasnya hujan perjam. Sifat umum hujan adalah makin tinggi dan makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya. Hubungan antara intensitas, lama hujan, dan frekuensi hujan biasanya dinyatakan dalam lengkung Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDF) (Suripin, 2004).
Pembuatan lengkung IDF dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari beberapa persamaan berikut:
a. Persamaan Talbot, biasanya digunakan untuk hujan antara 5 menit-2 jam.
b. Persamaan Sherman, biasanya digunakan untuk hujan kurang dari 2 jam.
c. Persamaan Ishiguro, biasanya digunakan untuk hujan lebih dari 2 jam.
d. Persamaan Mononobe, biasanya digunakan untuk durasi hujan yang beragam.

 
3. Debit Banjir
Banjir adalah suatu keadaan dimana saluran drainase mengalirkan air diatas kondisi batas normalnya. Debit banjir adalah besarnya kelebihan volume air dari batas normal yang melalui saluran drainase persatuan waktu.

4. Laju Infiltrasi
Infiltrasi adalah aliran air ke dalam tanah melalui permukaan tanah. Di dalam tanah air mengalir dalam arah lateral, sebagai aliran antara (interflow) menuju mata air, danau, dan sungai, atau secara vertikal, yang dikenal dengan perkolasi (percolation) menuju air tanah. Terdapat beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah (Bambang Triatmodjo, 2008):
a. Genangan di atas permukaan tanah dan tebal lapisan yang jenuh
b. Kelembaban tanah
c. Pemampatan tanah oleh curah hujan
d. Penyumbatan oleh bahan yang halus (bahan endapan)
e. Pemampatan oleh orang dan hewan
f. Tumbuh-tumbuhan
g. Topografi

Data hidrologi dapat dimanfaatkan dalam penelitian terhadap potensi air permukaan atau air tanah dan pengembangannya serta digunakan sebagai studi untuk perencanaan proyek-proyek pemanfaatan, pengendalian, dan pelestarian air.

Pengelolaan Limpasan Hujan
Konsep Konvensional

Metode konvensional pengelolaan hujan pada prinsipnya adalah mengalirkan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya dengan cara membuat sudetan, normalisasi sungai, pembuatan talud, dan berbagai macam konstruksi sipil lainnya. Penyelesaian banjir dan permasalahan drainase dengan konsep penanganan banjir secara konvensional yang hanya mengutamakan faktor hidraulik, bertitik tolak pada penanganan dampak banjir secara lokal. Menurut Haryono (1999), drainase adalah suatu ilmu tentang pengeringan tanah. Drainase (drainage) berasal dari kata to drain artinya mengosongkan air. Dalam bidang teknik sipil, drainase secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi kawasan atau lahan sehingga fungsi dari kawasan atau lahan tidak terganggu (Suripin, 2004). Drainase menyangkut pengaliran kelebihan air permukaan dan air tanah ke badan air atau ke bangunan peresapan.
Konsep Terintegrasi

Konsep terintegrasi atau Low Impact Development (LID) merupakan teknik pengelolaan air hujan lokal dalam skala mikro yang dibuat di suatu lokasi atau sekitar daerah tangkapan hujan. LID dikembangkan dari teknologi yang telah ada dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Beberapa teknologi yang dapat diaplikasikan untuk konsep LID ini, antara lain :
a. Bioretention (Rain Garden)
b. Saluran rumput (Swale)
c. Perkerasan yang lulus air (Porous Pavement)
d. Green roof
e. Kolam retensi

 

Minggu, 24 Mei 2015

Pemikir Analitis

Tidak ada komentar:

Tipe Pemikir Analitis adalah orang-orang pendiam dan tidak banyak bicara. Mereka suka menggali hingga ke dasar masalah – rasa ingin tahu adalah dorongan terbesar mereka. Mereka ingin tahu apa yang menyatukan dunia jauh di dalamnya. Mereka tidak butuh lebih banyak untuk kebahagiaan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Banyak ahli matematika, filsuf, dan ilmuwan merupakan tipe ini. Tipe Pemikir Analitis tidak suka kontradiksi dan ketidaklogisan; dengan kecerdasan mereka yang tajam, dengan cepat dan menyeluruh mereka menangkap pola, prinsip, dan struktur. Secara khusus mereka tertarik dengan sifat mendasar segala hal dan penemuan-penemuan teoritis; bagi mereka, tidak penting apakah mereka harus menerjemahkannya menjadi tindakan-tindakan praktis atau membagi pemikiran mereka kepada orang lain. Tipe Pemikir Analitis suka bekerja sendiri; kemampuan mereka untuk berkonsentrasi lebih menonjol dibanding tipe kepribadian yang lain. Mereka terbuka dan tertarik pada informasi baru.

Tipe Pemikir Analitis hanya memiliki sedikit ketertarikan pada masalah sehari-hari – mereka selalu agak seperti „profesor linglung“ yang rumah dan tempat kerjanya berantakan dan hanya mengkhawatirkan diri sendiri dengan hal-hal dasar seperti kebutuhan fisik ketika hal itu menjadi sangat tidak bisa dihindarkan. Pengakuan atas karya mereka oleh orang lain juga memegang peranan penting bagi mereka; secara umum, mereka cukup mandiri dalam hubungan sosial dan sangat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu tipe Pemikir Analitis sering memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka arogan atau congkak – terutama karena mereka tidak ragu untuk melontarkan isi kepala mereka dengan kritik mereka yang biasanya pedas (sekalipun beralasan) dan rasa percaya diri mereka yang tak tergoyahkan. Orang-orang di sekitarnya yang tidak kompeten tidak akan lolos dengan mudah dari mereka. Namun barangsiapa berhasil memenangkan rasa hormat dan ketertarikan mereka akan mendapatkan orang yang jenaka dan sangat cerdas untuk diajak berbincang. Pasangan yang membuat seseorang takjub dengan pengamatannya yang tajam dan selera humornya yang getir.

Butuh waktu sebelum tipe Pemikir Analitis bisa berteman, namun biasanya mereka akan berteman seumur hidup. Mereka hanya butuh sedikit orang di sekitar mereka. Kemampuan yang paling penting bagi mereka adalah kecocokan dan dengan demikian memberi mereka inspirasi. Kewajiban sosial yang terus-menerus dengan cepat membuat mereka jengkel; mereka butuh banyak waktu sendiri dan sering menarik diri dari orang lain. Pasangan mereka harus menghargai ini dan mengerti bahwa ini bukan karena kurangnya kasih sayang. Begitu mereka sudah memutuskan menyukai seseorang, tipe Pemikir Analitis adalah pasangan yang setia dan dapat diandalkan. Namun demikian, Anda jangan mengharapkan romansa dan ekspresi perasaan berlebih dari mereka dan mereka jelas akan lupa ulang tahun pernikahan mereka. Namun mereka selalu siap menyambut malam yang diisi dengan perbincangan menggairahkan dan segelas anggur lezat!


Sumber: http://www.ipersonic.net/id/15.html

Kemarin mencoba mengetes kepribadian via ipersonic (rekomendasi temen), dan hasilnya cukup sesuai. Bisa untuk bahan kontemplasi dan pengingat supaya tidak terlalu berlebihan menjadi tipe yang satu ini. :)

Sabtu, 02 Mei 2015

Pesta Bintang

Tidak ada komentar:
Bintang. Benda langit yang selalu memancarkan cahaya. Berbeda dengan bulan dan planet lain yang bertugas memantulkan cahaya sang bintang. Secara kasat mata perbedaan bintang dan planet dapat kita lihat dari kerlipan-nya di bumi. Bila sinar itu berkelip pastilah itu bintang, bila sinar itu tidak berkelip bisa jadi itu adalah planet.

Minggu lalu, 25-26 april 2015, saya diajak untuk melihat pesta bintang. Bukan bintang televisi, tapi bintang yang sebenarnya. Kebetulan pada saat itu akan ada hujan meteor. Terbayang indahnya langit ketika saya menerima ajakan itu. Berlokasi di salah satu balai di daerah Cimanggu, Bogor kami tiba disana. Banyak peserta lain yang ikut serta, bahkan anak seusia sekolah dasar-pun ada yang turut hadir. Mereka datang atas keinginan mereka sendiri, dengan diantar orang tuanya.

Disana kami larut dalam diskusi tentang astronomi, tentang benda langit hingga tentang cara mengamati benda langit. Memang saya masih sangat amatir untuk materi ini, tapi dengan diskusi ini banyak hal yang saya pelajari, dari cara mengamati bintang, cara menggunakan peta langit, cara menterjemahkan peta langit, cara menggunakan teleskop, hingga cara merakit teleskop. Sungguh menarik :D. Meski secara keseluruhan pesta bintang kali ini terhitung tidak lengkap karena awan menutupi langit malam itu, namun teori di pesta bintang terasa dapat menebusnya karena setelah mengetahui teori tersebut dimanapun kita berada, kita dapat selalu melihat pesta bintang.

Acara ditutup dan kami-pun beranjak tidur, kami memilih tidur di lapangan terbuka, sambil berharap bintang kan terlihat ketika kami membuka mata. Tapi awan masih menutupi langit hingga pagi tiba. Tak apa, kami cukup puas dengan pesta bintang hari itu. Sampai jumpa di pesta bintang selanjutnya.

 

NB:
Ketika memandang langit entah kenapa lagu itu sering hinggap di pikiranku.
“,,,,
Walau kau kini jauh disana
Kita memandang langit yang sama
Jauh dimata namun dekat dihati”
:D

Kamis, 26 Maret 2015

Sepenggal Kisah di Hari Air

Tidak ada komentar:
Minggu 22 Maret 2015, saya mengagendakan untuk berkunjung ke Komunitas Ciliwung yang berada di Bojong. Sudah hampir sebulan sudah tidak bermain disana. Sebenarnya pada hari itu ada perlombaan Riverboarding yang akan diadakan disana, jadi sekalian saja saya ikut memeriahkan acara walau hanya sebagai penonton setia.

 

 

Banyak hal yang saya sukai ketika berada di komunitas seperti ini, antara lain saya bisa belajar ilmu hayati tentang tanaman, tentang hewan khususnya reptil, dan tentang sejarah, ya sejarah sungai. Banyak hal yang menjadi inspirasi saya dalam melakukan sesuatu. Melakukan sesuatu untuk lingkungan.

Ketika sampai disana perlombaan sudah dimulai. Saya dan teman-teman menyusuri pinggir sungai dari garis start hingga garis finish. Huff, cukup jauh juga... haha. Ketika babak penyisihan sudah selesai, kami beristirahat di warung yang ada disana. Berbincang-bincang dan bermain dengan reptil yang ada disana. Seringkali ketika ada kegiatan seperti ini, reptil-reptil ikut dipamerkan.