WASTE MINIMIZATION
Program waste minimization atau minimisasi limbah telah dimulai sejak tahun 1988 oleh US Environmental Protection Agency (US EPA). Minimisasi limbah merupakan pendekatan pengelolaan limbah yang berfokus pada pengurangan jumlah dan toksisitas limbah berbahaya yang dihasilkan pada suatu proses. Terdapat tiga metode umum minimisasi limbah yaitu:
Pengurangan di Sumber (Source Reduction)
Yaitu mengubah kegiatan dan proses untuk mengurangi atau menghilangkan timbulan limbah bahan berbahaya. Beberapa sumber yang biasanya diperhatikan antara lain substitusi bahan kimia, modifikasi proses, dan peningkatan prosedur operasi.
Daur Ulang (Recycling)
Yaitu ketika bahan limbah digunakan untuk tujuan lain, dirawat dan digunakan kembali dalam proses yang sama, atau direklamasi untuk proses lain.
Pengolahan (Treatment)
Yaitu mengolah limbah yang dihasilkan pada suatu proses sehingga limbah menjadi tidak berbahaya atau berkurang tingkat bahayanya.
POLLUTION PREVENTION
Program pollution prevention atau pencegahan pencemaran merupakan program pengelolaan lingkungan dengan mengupayakan pencegahan pencemaran terhadap lingkungan dari setiap aktivitas, produk dan jasa di perusahaan. Pencegahan pencemaran menurut US EPA adalah teknologi produksi dan strategi yang menghasilkan pencegahan atau pengurangan terbentuknya limbah. Pencegahan pencemaran didefinisikan sebagai pemakaian bahan, proses, praktek yang dapat mengurangi atau menghilangkan timbulan pencemar atau limbah pada sumbernya. Termasuk praktek yang dapat mengurangi pemakaian bahan-bahan berbahaya, energi, air, dan sumber daya lainnya dan praktek yang melindungi sumber daya alam melalui konservasi atau penggunaan yang lebih efisien.
Pollution prevention dilakukan secara bertahap dengan tahapan:
Environment Aspect Elimination (Process Re-Design)
Melakukan perancangan ulang terhadap proses yang ada.
Environment Aspect Substitution (Process Changes)
Melakukan perubahan proses sehingga aspek lingkungan lama digantikan oleh aspek lingkungan yang ramah lingkungan.
Environment Aspect Engineering (Process Modification)
Modifikasi proses yang ada dengan tidak merubah proses yang ada.
Environment Impact Engineering (Waste Utilization)
Merupakan rekayasa pengendalian dampak lingkungan yang memanfaatkan limbah yang ditimbulkan melalui beberapa metoda antara lain Recycle (Daur Ulang), Recovery (Memanfaatkan Elemen Penting), Reuse (Penggunaan Ulang) dan Retreatment (Pengolahan Ulang).
Pencegahan Pencemaran lebih ditekankan untuk tidak menimbulkan limbah dengan cara pencegahan dan pengurangan langsung dari sumbernya, sedangkan minimisasi limbah mencakup pencegahan pencemaran dan daur ulang serta cara lain untuk mengurangi jumlah limbah yang harus diolah atau ditimbun.
CLEANER PRODUCTION
Program cleaner production atau produksi bersih diperkenalkan oleh United Nations Enviroment Program (UNEP) pada tahun 1989/1990. Cleaner production merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produk dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan. Cleaner Production berfokus pada usaha pencegahan terbentuknya limbah.
Di Indonesia terdapat Pusat Produksi Bersih Nasional (PPBN) yang memiliki prinsip-prinsip pokok dalam strategi produksi bersih yang dituangkan dalam 5R yaitu:
RE-THINK
Adalah suatu konsep pemikiran yang harus dimiliki pada saat awal kegiatan akan beroperasi. Implikasi dari re-think adalah perubahan dalam pola produksi dan konsumsi berlaku baik pada proses maupun produk yang dihasilkan, sehingga harus dipahami betul analisis daur hidup produk. Upaya produksi bersih ini tidak dapat berhasil dilaksanakan tanpa adanya perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku dari semua pihak terkait baik pemerintah, masyarakat maupun kalangan dunia usaha.
REUSE
Adalah suatu teknologi yang memungkinkan suatu limbah dapat digunakan kembali tanpa mengalami perlakuan fisika atau kimia atau biologi. Implikasi dari re-use adalah penggunaan kembali un-treated water, pemakaian kemasan bahan kimia untuk bahan kimia sejenis.
REDUCTION
Adalah teknologi yang dapat mengurangi atau mencegah timbulnya pencemaran diawal produksi. Implikasi dari reduction adalah mengurangi dan meminimisasi penggunaan bahan baku, air dan energi serta menghindari pemakaian bahan baku berbahaya dan beracun serta mereduksi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga mencegah dari atau mengurangi timbulnya masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan serta resikonya terhadap manusia.
RECOVERY
Adalah teknologi untuk memuliakan suatu bahan atau energi dari suatu limbah untuk kemudian dikembalikan kedalam proses produksi dengan atau tanpa perlakuan fisika atau kimia atau biologi.
RECYCLING
Adalah teknologi yang berfungsi untuk memanfaatkan limbah dengan memprosesnya kembali ke proses semula yang dapat dicapai melalui perlakuan fisika atau kimia atau biologi.
RESOURCE EFFICIENT AND CLEANER PRODUCTION
Program resource efficient and cleaner production didasarkan pada keberhasilah dari program sebelumnya yaitu National Cleaner Production Centers (NCPCs) yang didirikan sejak tahun 1994. Program ini mengarahkan agar terciptanya “zero waste” pada proses suatu industri.
Referensi: berbagai sumber
Minggu, 13 Februari 2011
Sabtu, 30 Oktober 2010
Penetapan Oksigen Terlarut dalam Sampel Air
Adanya oksigen terlarut di dalam air adalah sangat penting untuk menunjang kehidupan ikan dan organisme air lainnya. Kemampuan air untuk membersihkan pencemaran secara alamiah banyak tergantung kepada cukup tidaknya kadar oksigen terlarut. Oksigen terlarut di dalam air berasal dari udara dan dari proses fotosintesa tumbuh-tumbuhan air. Terlarutnya oksigen di dalam air tergantung kepada temperatur, tekanan barometrik udara dan kadar mineral di dalam air.
Salah satu metode untuk menetapkan jumlah oksigen terlarut yang berada dalam air adalah Metode Winkler. Metode ini menggunakan prinsip titrasi yodometri, dimana thiosulfat menjadi bahan penitar.
Oksigen di dalam sampel akan mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan ke dalam larutan pada keadaan alkalis, sehingga terjadi endapan MnO2
MnSO4 + 2 KOH → Mn(OH)2 + K2SO4
Mn(OH)2 + ½ O2 → MnO2 + H2O
pH rendah
Dengan penambahan asamsulfat dan kalium iodida maka akan dibebaskan iodin yang ekuivalen dengan oksigen terlarut
MnO2 + 2 KI + 2 H2O → Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
Iodin yang dibebaskan tersebut kemudian dititrasi dengan larutan standart tiosulfat dan indikator kanji
I2 + 2 S2O32- → S4O6- + 2 I-
Tahapan reaksi dan teknis yang harus diperhatikan dalam tiap tahap pekerjaan yaitu
Pada proses pengambilan sampel ke dalam botol winkler harus benar-benar dilakukan tanpa adanya penambahan oksigen akibat turbulensi sampel. Adanya gelembung udara pada saat pengambilan sampel akan menambah jumlah oksigen yang terkandung dalam sampel dan mengakibatkan terjadinya kesalahan positif. Tidak terjadi reaksi kimia pada tahap ini.
Selanjutnya ditambahkan MnSO4 dan alkali iodida azida yang akan bereaksi dengan oksigen yang ada dalam sampel air membentuk endapan mangan (IV) oksida (MnO2). Banyaknya endapan yang terbentuk setara dengan banyaknya oksigen yang ada dalam sampel air, karena seluruh oksigen dalam sampel telah bereaksi dengan mangan. Bila endapan tidak terbentuk mengindikasikan tidak adanya oksigen dalam sampel air. Mangan merupakan salah satu logam amfoter sehingga suasana akan menentukan reaksi yang terjadi, untuk mencapai endapan mangan (IV) oksida diperlukan suasana dengan pH rendah atau alkalis.
Kemudian ditambahkan H2SO4 pekat yang akan melarutkan kembali endapan mangan yang sebelumnya terbentuk. Pada proses pelarutan endapan ini akan terbentuk iodin bebas. Iodin ini akan langsung direaksikan dengan thiosulfat secara titrasi dengan indikator amilum.
Salah satu metode untuk menetapkan jumlah oksigen terlarut yang berada dalam air adalah Metode Winkler. Metode ini menggunakan prinsip titrasi yodometri, dimana thiosulfat menjadi bahan penitar.
Oksigen di dalam sampel akan mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan ke dalam larutan pada keadaan alkalis, sehingga terjadi endapan MnO2
MnSO4 + 2 KOH → Mn(OH)2 + K2SO4
Mn(OH)2 + ½ O2 → MnO2 + H2O
pH rendah
Dengan penambahan asamsulfat dan kalium iodida maka akan dibebaskan iodin yang ekuivalen dengan oksigen terlarut
MnO2 + 2 KI + 2 H2O → Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
Iodin yang dibebaskan tersebut kemudian dititrasi dengan larutan standart tiosulfat dan indikator kanji
I2 + 2 S2O32- → S4O6- + 2 I-
Tahapan reaksi dan teknis yang harus diperhatikan dalam tiap tahap pekerjaan yaitu
Pada proses pengambilan sampel ke dalam botol winkler harus benar-benar dilakukan tanpa adanya penambahan oksigen akibat turbulensi sampel. Adanya gelembung udara pada saat pengambilan sampel akan menambah jumlah oksigen yang terkandung dalam sampel dan mengakibatkan terjadinya kesalahan positif. Tidak terjadi reaksi kimia pada tahap ini.
Selanjutnya ditambahkan MnSO4 dan alkali iodida azida yang akan bereaksi dengan oksigen yang ada dalam sampel air membentuk endapan mangan (IV) oksida (MnO2). Banyaknya endapan yang terbentuk setara dengan banyaknya oksigen yang ada dalam sampel air, karena seluruh oksigen dalam sampel telah bereaksi dengan mangan. Bila endapan tidak terbentuk mengindikasikan tidak adanya oksigen dalam sampel air. Mangan merupakan salah satu logam amfoter sehingga suasana akan menentukan reaksi yang terjadi, untuk mencapai endapan mangan (IV) oksida diperlukan suasana dengan pH rendah atau alkalis.
Kemudian ditambahkan H2SO4 pekat yang akan melarutkan kembali endapan mangan yang sebelumnya terbentuk. Pada proses pelarutan endapan ini akan terbentuk iodin bebas. Iodin ini akan langsung direaksikan dengan thiosulfat secara titrasi dengan indikator amilum.
Jumat, 27 Agustus 2010
Perjalanan Kerja Praktik di Proyek Pembangunan Bendungan Jatigede
Bendungan Jatigede merupakan bendungan yang berlokasi di Desa Cijeunjing, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang. Suatu desa yang amat indah. Dengan kondisi alam yang masih terbilang cukup asri. Bendungan ini membendung aliran Sungai Cimanuk. Sumber mata air aliran sungai ini berasal dari Gunung Papandayan di daerah Garut. Daerah aliran sungai ini memiliki perbedaan curah hujan yang signifikan antara bulan kering dan bulan basahnya. Signifikansi perbedaan curah hujan tersebut mengakibatkan ketidakseimbangan pada bagian hilir bendungan, yaitu sering terjadi kebanjiran pada bulan basah namun seringpula terjadi kekeringan pada bulan kering. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah hilir sungai, maka dibangunlah Bendungan Jetigede ini. Selain itu pembangunan Bendungan Jatigede ini juga dibangun sebagai PLTA, sumber air baku dan sebagai daerah wisata.
Bendungan pada dasarnya memiliki beberapa bagian penting, antara lain inti bendungan, bangunan pelimpah dan terowongan pengelak serta saluran-saluran lain yang berfungsi sesuai peruntukan bendungan, seperti saluran irigasi pada contoh kasus Bendungan Jatigede.
Pada proses pembangunannya banyak aspek-aspek yang harus dipertimbangkan hingga pada akhirnya pembangunan dapat direalisasikan. Dimulai dari aspek teknis, sosial, kelembagaan hingga aspek pendanaan serta keberlangsungan dalam perawatannya. Suatu bangunan apapun akan sangat bermanfaat bila digunakan dengan perawatan yang sesuai sehingga dapat memperpanjang umur bangunan itu. Bila bangunan itu tidak dirawat ataupun tidak dioperasikan sebagaimana mestinya hanya akan menjadikan bangunan itu tidak bermanfaat.
Kerja praktik di Bendungan Jatigede sungguh menyenangkan. Banyak hal yang dapat dipelajari, dimulai dari aspek struktur, geologi teknik, manajemen konstruksi dan tidak lupa ialah keairan itu sendiri, semua disiplin ilmu terintegrasi menjadi satu sehingga menghasilkan diskusi-diskusi yang pada akhirnya saling menambah wawasan dan pengalaman bagi kita yang berdiskusi. Semakin banyak sudut pandang akan semakin mempertajam analisis serta menambah keakuratan dalam proses pendesainan suatu bangunan. Tidak hanya bidang ilmu teknik sipil, teknik-teknik yang lainpun dapat mengambil pelajaran dari pembangunan Bendungan Jatigede. Bahkan untuk disiplin ilmu sosialpun dapat mempelajarinya, seperti pola hidup masyarakat, hingga aspek kenegaraan yang ada di proyek ini. Hal tersebut dikarenakan pasti akan ada perubahan dalam pola hidup masyarakat sebelum dan sesudah pembangunan Bendungan Jatigede ini, dapat menjadi bahan kajian apakah perubahan tersebut kearah yang lebih baik atau sebaliknya. Selain itu pada proyek ini merupakan proyek kerjasama bilateral atau dua negara, Indonesia dengan China dalam hal konstruksinya. Sungguh luas sekali bahan pelajaran yang dapat diambil dari satu buah proyek yang memang terbilang besar.
Perjalanan selama satu bulan yang memberikan sebuah pengalaman yang unik, karena dapat melihat dengan langsung suatu konstruksi dimana alam yang menjadi subjek studi. Dalam pembangunan bendungan ini, para pekerja khususnya pendesain harus menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Bukan lingkungan yang menyesuaikan dengan kemauan pendesain. Kondisi lingkungan akan sangat memberikan pengaruh meskipun yang berdampak setahun, sepuluh tahun, hingga seribu tahun sekali, semua harus diperhatikan dan diperhitungkan.
Namun, sepertiya ada pertanyaan dasar yang sering terfikirkan oleh saya pribadi, ketika bendungan ini sudah mengalami ‘kematian’ atau tidak dapat difungsikan kembali, akan diapakan lahan yang telah tertimbun sedimen-sedimen yang mengendap itu???
Aliran mata air tetap berjalan, apakah akan ada aliran baru, atau akan ada perubahan permukaan tanah secara signifikan dari zaman sebelum adanya pembangunan ke zaman setelah pembangunan???
Entahlah, mungkin hanya waktu yang dapat menjawab semua itu.
Jawaban yang sering saya temui dari pertanyaan itu hanyalah pencegahan dengan membangun dam pada bagian hulu serta pencegahan erosi dengan penanaman daerah sekitarnya. Yupz, suatu jawaban yang mudah tetapi tidak semudah pengerjaannya. Tetap harus ada yang menjaga, mengontrol hingga merawat bendungan ini.
Alam semesta, lingkungan mengajarkan banyak hal yang semakin dikaji akan semakin menumbuhkan rasa penasaran dalam diri. Teknik lingkungan mengajarkan cara-cara memperbaiki kondisi alam, membantu alam memurnikan dirinya. Karena alampun hidup. Alampun dapat menjadi teman terbaik ketika kesepian dan kesendirian mendatangi. Bersahabat dengan lingkungan.
Lingkungan telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, sedangkan apa yang telah dilakukan manusia untuk lingkungan sekitar??? Kebanyakan manusia yang mencemari lingkungan dengan sampah-sampah tidak terkelola dengan baik. Seperti apakah pengelolaan sampah yang baik di daerah pedesaan??? Limbah-limbah domestik yang mencemari tanah, serta permasalahan lingkungan yang mendasari perbaikan kehidupan masyarakat.
Seringkali karena menganggap tingkat self purificaton lingkungan masih tinggi maka masyarakat membuang sampah sembarangan. Pola itu dapat terbawa ketika desa ini telah maju bila dari sekarang tidak ada pencerdasan tentang pengelolaan lingkungan yang baik. Lingkunganpun bisa marah ketika tidak ada lagi yang menghargai kehidupan makhluk-makhluk hidup lingkungan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan merupakan makhluk hidup yang harus manusia jaga. Tumbuhan memerlukan air, angin, tanah dan matahari, hewanpun demikian. Kenali lingkungan dengan sebenar-benarnya.
Banyak hal yang menarik dalam perjalanan kerja praktik ini. Saat terindah adalah dapat melihat lingkungan tersenyum dengan memberikan pelangi dan hamparan bintang disertai terangnya bulan serta kehangatan penduduk sekitar.
Berjalan diantara pembangunan konstruksi ditemani debu-debu bertebrangan. Pendakian batu-batu ditemani aliran air yang membawa mineral. Desiran angin dan derasnya hujan tidak kalah menemani perjalanan selama berada di area pembangunan hingga sepatu ini terasa berat diangkat. Matahari terbit dan terbenam diiringi dengan kicauan burung bernyanyi memberikan semangat baru dalam menjalani proses pembelajaran ini.
Pembangunan masih akan terus berlangsung hingga tahun 2013. Akankah senyum lingkungan masih dapat terlihat nanti?? Hanya waktu yang dapat menjawabnya.
(Sumedang,12 Agustus 2010, disaat tiba-tiba merasakan bosan dengan yang namanya LAPORAN.. hehehe... ya sudahlah...)
Bendungan pada dasarnya memiliki beberapa bagian penting, antara lain inti bendungan, bangunan pelimpah dan terowongan pengelak serta saluran-saluran lain yang berfungsi sesuai peruntukan bendungan, seperti saluran irigasi pada contoh kasus Bendungan Jatigede.
Pada proses pembangunannya banyak aspek-aspek yang harus dipertimbangkan hingga pada akhirnya pembangunan dapat direalisasikan. Dimulai dari aspek teknis, sosial, kelembagaan hingga aspek pendanaan serta keberlangsungan dalam perawatannya. Suatu bangunan apapun akan sangat bermanfaat bila digunakan dengan perawatan yang sesuai sehingga dapat memperpanjang umur bangunan itu. Bila bangunan itu tidak dirawat ataupun tidak dioperasikan sebagaimana mestinya hanya akan menjadikan bangunan itu tidak bermanfaat.
Kerja praktik di Bendungan Jatigede sungguh menyenangkan. Banyak hal yang dapat dipelajari, dimulai dari aspek struktur, geologi teknik, manajemen konstruksi dan tidak lupa ialah keairan itu sendiri, semua disiplin ilmu terintegrasi menjadi satu sehingga menghasilkan diskusi-diskusi yang pada akhirnya saling menambah wawasan dan pengalaman bagi kita yang berdiskusi. Semakin banyak sudut pandang akan semakin mempertajam analisis serta menambah keakuratan dalam proses pendesainan suatu bangunan. Tidak hanya bidang ilmu teknik sipil, teknik-teknik yang lainpun dapat mengambil pelajaran dari pembangunan Bendungan Jatigede. Bahkan untuk disiplin ilmu sosialpun dapat mempelajarinya, seperti pola hidup masyarakat, hingga aspek kenegaraan yang ada di proyek ini. Hal tersebut dikarenakan pasti akan ada perubahan dalam pola hidup masyarakat sebelum dan sesudah pembangunan Bendungan Jatigede ini, dapat menjadi bahan kajian apakah perubahan tersebut kearah yang lebih baik atau sebaliknya. Selain itu pada proyek ini merupakan proyek kerjasama bilateral atau dua negara, Indonesia dengan China dalam hal konstruksinya. Sungguh luas sekali bahan pelajaran yang dapat diambil dari satu buah proyek yang memang terbilang besar.
Perjalanan selama satu bulan yang memberikan sebuah pengalaman yang unik, karena dapat melihat dengan langsung suatu konstruksi dimana alam yang menjadi subjek studi. Dalam pembangunan bendungan ini, para pekerja khususnya pendesain harus menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Bukan lingkungan yang menyesuaikan dengan kemauan pendesain. Kondisi lingkungan akan sangat memberikan pengaruh meskipun yang berdampak setahun, sepuluh tahun, hingga seribu tahun sekali, semua harus diperhatikan dan diperhitungkan.
Namun, sepertiya ada pertanyaan dasar yang sering terfikirkan oleh saya pribadi, ketika bendungan ini sudah mengalami ‘kematian’ atau tidak dapat difungsikan kembali, akan diapakan lahan yang telah tertimbun sedimen-sedimen yang mengendap itu???
Aliran mata air tetap berjalan, apakah akan ada aliran baru, atau akan ada perubahan permukaan tanah secara signifikan dari zaman sebelum adanya pembangunan ke zaman setelah pembangunan???
Entahlah, mungkin hanya waktu yang dapat menjawab semua itu.
Jawaban yang sering saya temui dari pertanyaan itu hanyalah pencegahan dengan membangun dam pada bagian hulu serta pencegahan erosi dengan penanaman daerah sekitarnya. Yupz, suatu jawaban yang mudah tetapi tidak semudah pengerjaannya. Tetap harus ada yang menjaga, mengontrol hingga merawat bendungan ini.
Alam semesta, lingkungan mengajarkan banyak hal yang semakin dikaji akan semakin menumbuhkan rasa penasaran dalam diri. Teknik lingkungan mengajarkan cara-cara memperbaiki kondisi alam, membantu alam memurnikan dirinya. Karena alampun hidup. Alampun dapat menjadi teman terbaik ketika kesepian dan kesendirian mendatangi. Bersahabat dengan lingkungan.
Lingkungan telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, sedangkan apa yang telah dilakukan manusia untuk lingkungan sekitar??? Kebanyakan manusia yang mencemari lingkungan dengan sampah-sampah tidak terkelola dengan baik. Seperti apakah pengelolaan sampah yang baik di daerah pedesaan??? Limbah-limbah domestik yang mencemari tanah, serta permasalahan lingkungan yang mendasari perbaikan kehidupan masyarakat.
Seringkali karena menganggap tingkat self purificaton lingkungan masih tinggi maka masyarakat membuang sampah sembarangan. Pola itu dapat terbawa ketika desa ini telah maju bila dari sekarang tidak ada pencerdasan tentang pengelolaan lingkungan yang baik. Lingkunganpun bisa marah ketika tidak ada lagi yang menghargai kehidupan makhluk-makhluk hidup lingkungan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan merupakan makhluk hidup yang harus manusia jaga. Tumbuhan memerlukan air, angin, tanah dan matahari, hewanpun demikian. Kenali lingkungan dengan sebenar-benarnya.
Banyak hal yang menarik dalam perjalanan kerja praktik ini. Saat terindah adalah dapat melihat lingkungan tersenyum dengan memberikan pelangi dan hamparan bintang disertai terangnya bulan serta kehangatan penduduk sekitar.
Berjalan diantara pembangunan konstruksi ditemani debu-debu bertebrangan. Pendakian batu-batu ditemani aliran air yang membawa mineral. Desiran angin dan derasnya hujan tidak kalah menemani perjalanan selama berada di area pembangunan hingga sepatu ini terasa berat diangkat. Matahari terbit dan terbenam diiringi dengan kicauan burung bernyanyi memberikan semangat baru dalam menjalani proses pembelajaran ini.
Pembangunan masih akan terus berlangsung hingga tahun 2013. Akankah senyum lingkungan masih dapat terlihat nanti?? Hanya waktu yang dapat menjawabnya.
(Sumedang,12 Agustus 2010, disaat tiba-tiba merasakan bosan dengan yang namanya LAPORAN.. hehehe... ya sudahlah...)
Rabu, 07 Juli 2010
Makna Menunggu Sesungguhnya…
Lingkungan mengajarkan kita banyak hal. Hal-hal sederhana yang membuat kita harus berfikir mencari makna dari setiap kejadian.
“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tinggalkan busur tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum di gali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan.”
Air menunggu kita untuk dijernihkan
Udara menunggu kita untuk dibersihkan
Sampah menunggu kita untuk diolah
Banyak hal di lingkungan kita yang menunggu untuk kita bergerak. Tapi pergerakan kita harus didasarkan pada teori dan pengalaman. Bahkan sampahpun menunggu kita untuk dibuang di tempat sampah. Bumi kita bukanlah tempat sampah. Bumi kita perlu ditata sedemikian rupa hingga semua seimbang. Karena pada dasarnya setiap komponen lingkungan memiliki kemampuan memperbaiki dirinya sendiri (self purification)
Menunggu, sungguh terasa lama ketika kita menunggu hal yang kita inginkan. Tapi isilah waktu-waktu penantian itu dengan hal-hal yang bermanfaat. Karena bias jadi orang lain membuat kita menunggu karena kita telah membuat orang yang lain menunggu. Tak peduli siapa orangnya, lakukan yang terbaik yang bias kita lakukan.
Demi lingkungan yang lebih baik. Tetap semangat!!!
“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tinggalkan busur tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum di gali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan.”
Air menunggu kita untuk dijernihkan
Udara menunggu kita untuk dibersihkan
Sampah menunggu kita untuk diolah
Banyak hal di lingkungan kita yang menunggu untuk kita bergerak. Tapi pergerakan kita harus didasarkan pada teori dan pengalaman. Bahkan sampahpun menunggu kita untuk dibuang di tempat sampah. Bumi kita bukanlah tempat sampah. Bumi kita perlu ditata sedemikian rupa hingga semua seimbang. Karena pada dasarnya setiap komponen lingkungan memiliki kemampuan memperbaiki dirinya sendiri (self purification)
Menunggu, sungguh terasa lama ketika kita menunggu hal yang kita inginkan. Tapi isilah waktu-waktu penantian itu dengan hal-hal yang bermanfaat. Karena bias jadi orang lain membuat kita menunggu karena kita telah membuat orang yang lain menunggu. Tak peduli siapa orangnya, lakukan yang terbaik yang bias kita lakukan.
Demi lingkungan yang lebih baik. Tetap semangat!!!
Rabu, 12 Mei 2010
PERJALANAN DEWAN PENGARAH MUSYAWARAH KERJA KE VII IKATAN KELUARGA MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
Musyawarah Kerja Ikatan Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang biasa disingkat MUKER IKM FTUI merupakan forum pengambil keputusan tertinggi di fakultas teknik Universitas Indonesia. MUKER IKM FTUI dilaksanakan setiap empat tahun sekali atau bila dianggap perlu. MUKER memiliki wewenang untuk membekukan, mengaktifkan kembali dan membubarkan IKM serta meninjau atau menyempurnakan peraturan-peraturan yang telah ada di IKM FTUI.
MUKER ke-I pada tanggal 14 September 1971 di Tugu, Puncak, Jawa Barat menghasilkan peraturan rumah tangga IKM FTUI. Selanjutnya diubah dan disempurnakan kembali pada MUKER ke-II hingga terakhir pada MUKER ke-VI. MUKER ke-VI dilaksanakan pada tanggal 10-26 Januari 2007.
Pelaksanaan MUKER bukanlah sesuatu yang dianggap mudah. Perlu persiapan yang sangat matang untuk dapat memperbaiki keberlangsungan IKM FTUI. Dalam pelaksanaannya MPM FTUI sebagai lembaga tertinggi di IKM FTUI membentuk dewan pengarah yang bertugas untuk membuat materi MUKER. Dewan pengarah MUKER atau biasa disingkat DP MUKER terdiri atas satu perwakilan tiap lembaga IKM FTUI dan anggota IKM aktif yang mendaftar.
Pada saat ini, menjelang MUKER ke-VII, MPM FTUI periode 2010 telah membentuk DP MUKER. DP MUKER VII tercatat memiliki anggota sebanyak 50 orang terdiri atas 24 perwakilan lembaga dan 26 anggota IKM aktif yang mendaftar. Khusus untuk DP MUKER ke-VII ini memiliki tugas tambahan yaitu rekomendasi waktu pelaksanaan MUKER VII ke MPM FTUI 2010 paling lambat 15 April 2010.
Perjalanan DP MUKER VII dimulai dari pertemuan pertama pada tanggal 4 Maret 2010, bertempat di Ruang BEM Pusgiwa FTUI. Pertemuan pertama ini sebagai wadah perkenalan, penyamaan persepsi mengenai MUKER hingga tata tertib dalam ruang lingkup DP MUKER itu sendiri.
Pertemuan kedua pada tanggal 9 Maret 2010 di tempat yang sama dilakukan pembahasan mengenai alur yang akan dilakukan. Setelah melewati proses dan berbagai pertimbangan, akhirnya dicapai sebuah kesepakatan alur. Kesepatakan alur yang akan digunakan sebagai kerangka kerja DP MUKER yaitu penentuan masalah, pengelompokkan masalah, pemprioritaskan masalah, pengkajian masalah, solusi masalah, dampak solusi masalah dan terakhir alternatif solusi.
Pertemuan ketiga pada tanggal 11 Maret 2010 dilakukan pembahasan mengenai sumber informasi yang dapat diambil sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan MUKER VII serta metode penentuan informasi yang akan dilakukan. Sumber informasi meliputi mahasiswa termasuk DP MUKER dan warga teknik, BPH dan BP lembaga, dosen, alumni, birokrat, warga kutek, pedagang kantek, satpam dan karyawan. Sedangkan metode penentuan informasi dilakukan dengan cara bertukar wawasan dan melalui polling.
Pertemuan keempat pada tanggal 17 Maret 2010 dilakukan pembahasan mengenai list masalah yang berasal dari DP MUKER melewati esai yang dibuat ketika hendak masuk sebagai DP MUKER. Masalah-masalah yang muncul cukup banyak, namun dalam pembahasan ini dilakukan pemilihan masalah yang disepakati bersama untuk dikaji lebih mendalam. Kesepatan akan masalah yang ada yaitu periodisasi, keanggotaan IKM, Badan Otonom (BO) / Badan Semi Otonom (BSO) / Klub Peminatan Departemen (KPD), kelas paralel, Proses Pembekalan Anggota Muda (PPAM), Keuangan, Pemilu, Demisioner, Proker turunan, rangkap jabatan, BPH kepanitian, dan Badan Khusus Kerohanian (BKK).
Pertemuan kelima pada tanggal 25 Maret 2010 dilakukan pembahasan pada tahap pengelompokkan masalah. Tahap ini merupakan tahap kedua dari alur yang telah disepakati. Pada tahap ini dilakukan pengelompokkan masalah dari list permasalahan yang sudah muncul pada pertemuan sebelumnya. Setelah melewati proses dan pertimbangan didapatkan pembagian kelompok masalah adalah pemilu dan periodisasi (meliputi periodisasi, pemilu dan demisioner), keanggotaan IKM (meliputi kelas paralel), Klub (meliputi BO, BSO dan KPD), kelembagaan (meliputi proker turunan, BPH kepanitiaan, rangkap jabatan dan BKK), keuangan dan pembinaan (meliputi PPAM). Kelompok masalah yang telah disepakati akan diberikan ke warga teknik untuk kemudian dikomentari dan diprioritaskan melalui media polling.
Pertemuan keenam pada tanggal 6 April 2010 dilakukan penyepakatan dan penyebaran polling kepada warga departemen. Polling yang disebar disesuaikan dengan metode pengambilan sample, yaitu 30% dari total seluruh warga yang ada. Pada pertemuan ini dibahas akan teknis penyebaran polling.
Pertemuan ketujuh tanggal 13 April 2010 seharusnya telah dapat disimpulkan hasil polling dan prioritas masalah yang muncul dari warga. Namun terdapat beberapa kekeliruan teknis dilapangan pada saat penyebaran polling, sehingga pada pertemuan ini dilakukan evaluasi dan perbaikan akan polling serta penyebaran polling yang kurang untuk dapat melengkapi syarat pengambilan sampel sebanyak 30% warga teknik.
Pertemuan kedelapan pada tanggal 15 April 2010 merupakan tanggal dimana rekomendasi waktu untuk pelaksanaan MUKER VII harus sudah ada. Perkembangan hingga sampai tahap ini merupakan perkembangan yang baik dan sesuai dengan alur yang telah disepakati. Pada tanggal ini dilakukan rapat DP MUKER kerja hingga pukul 21.10. Akhir rapat ini menyepakati bahwa rekomendasi waktu dari DP MUKER kepada MPM FTUI 2010 ialah musyawarah kerja ikatan keluarga mahasiswa fakultas teknik universitas Indonesia sebaiknya diadakan pada bulan Januari 2011 pada masa liburan. Namun, keputusan akhir mengenai pelaksanaan MUKER akan disepakati di tingkat MPM FTUI 2010.
Pada tanggal 11 Mei 2010 sidang pleno MPM FTUI 2010 telah menetapkan bahwa pelaksanaan MUKER IKM FTUI akan dilaksanakan pada bulan Januari 2011 dengan menyepakati bahwa program kerja dapat terus berjalan. Sehingga permasalahan akan adanya proker turunan dapat teratasi.
MUKER ke-I pada tanggal 14 September 1971 di Tugu, Puncak, Jawa Barat menghasilkan peraturan rumah tangga IKM FTUI. Selanjutnya diubah dan disempurnakan kembali pada MUKER ke-II hingga terakhir pada MUKER ke-VI. MUKER ke-VI dilaksanakan pada tanggal 10-26 Januari 2007.
Pelaksanaan MUKER bukanlah sesuatu yang dianggap mudah. Perlu persiapan yang sangat matang untuk dapat memperbaiki keberlangsungan IKM FTUI. Dalam pelaksanaannya MPM FTUI sebagai lembaga tertinggi di IKM FTUI membentuk dewan pengarah yang bertugas untuk membuat materi MUKER. Dewan pengarah MUKER atau biasa disingkat DP MUKER terdiri atas satu perwakilan tiap lembaga IKM FTUI dan anggota IKM aktif yang mendaftar.
Pada saat ini, menjelang MUKER ke-VII, MPM FTUI periode 2010 telah membentuk DP MUKER. DP MUKER VII tercatat memiliki anggota sebanyak 50 orang terdiri atas 24 perwakilan lembaga dan 26 anggota IKM aktif yang mendaftar. Khusus untuk DP MUKER ke-VII ini memiliki tugas tambahan yaitu rekomendasi waktu pelaksanaan MUKER VII ke MPM FTUI 2010 paling lambat 15 April 2010.
Perjalanan DP MUKER VII dimulai dari pertemuan pertama pada tanggal 4 Maret 2010, bertempat di Ruang BEM Pusgiwa FTUI. Pertemuan pertama ini sebagai wadah perkenalan, penyamaan persepsi mengenai MUKER hingga tata tertib dalam ruang lingkup DP MUKER itu sendiri.
Pertemuan kedua pada tanggal 9 Maret 2010 di tempat yang sama dilakukan pembahasan mengenai alur yang akan dilakukan. Setelah melewati proses dan berbagai pertimbangan, akhirnya dicapai sebuah kesepakatan alur. Kesepatakan alur yang akan digunakan sebagai kerangka kerja DP MUKER yaitu penentuan masalah, pengelompokkan masalah, pemprioritaskan masalah, pengkajian masalah, solusi masalah, dampak solusi masalah dan terakhir alternatif solusi.
Pertemuan ketiga pada tanggal 11 Maret 2010 dilakukan pembahasan mengenai sumber informasi yang dapat diambil sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan MUKER VII serta metode penentuan informasi yang akan dilakukan. Sumber informasi meliputi mahasiswa termasuk DP MUKER dan warga teknik, BPH dan BP lembaga, dosen, alumni, birokrat, warga kutek, pedagang kantek, satpam dan karyawan. Sedangkan metode penentuan informasi dilakukan dengan cara bertukar wawasan dan melalui polling.
Pertemuan keempat pada tanggal 17 Maret 2010 dilakukan pembahasan mengenai list masalah yang berasal dari DP MUKER melewati esai yang dibuat ketika hendak masuk sebagai DP MUKER. Masalah-masalah yang muncul cukup banyak, namun dalam pembahasan ini dilakukan pemilihan masalah yang disepakati bersama untuk dikaji lebih mendalam. Kesepatan akan masalah yang ada yaitu periodisasi, keanggotaan IKM, Badan Otonom (BO) / Badan Semi Otonom (BSO) / Klub Peminatan Departemen (KPD), kelas paralel, Proses Pembekalan Anggota Muda (PPAM), Keuangan, Pemilu, Demisioner, Proker turunan, rangkap jabatan, BPH kepanitian, dan Badan Khusus Kerohanian (BKK).
Pertemuan kelima pada tanggal 25 Maret 2010 dilakukan pembahasan pada tahap pengelompokkan masalah. Tahap ini merupakan tahap kedua dari alur yang telah disepakati. Pada tahap ini dilakukan pengelompokkan masalah dari list permasalahan yang sudah muncul pada pertemuan sebelumnya. Setelah melewati proses dan pertimbangan didapatkan pembagian kelompok masalah adalah pemilu dan periodisasi (meliputi periodisasi, pemilu dan demisioner), keanggotaan IKM (meliputi kelas paralel), Klub (meliputi BO, BSO dan KPD), kelembagaan (meliputi proker turunan, BPH kepanitiaan, rangkap jabatan dan BKK), keuangan dan pembinaan (meliputi PPAM). Kelompok masalah yang telah disepakati akan diberikan ke warga teknik untuk kemudian dikomentari dan diprioritaskan melalui media polling.
Pertemuan keenam pada tanggal 6 April 2010 dilakukan penyepakatan dan penyebaran polling kepada warga departemen. Polling yang disebar disesuaikan dengan metode pengambilan sample, yaitu 30% dari total seluruh warga yang ada. Pada pertemuan ini dibahas akan teknis penyebaran polling.
Pertemuan ketujuh tanggal 13 April 2010 seharusnya telah dapat disimpulkan hasil polling dan prioritas masalah yang muncul dari warga. Namun terdapat beberapa kekeliruan teknis dilapangan pada saat penyebaran polling, sehingga pada pertemuan ini dilakukan evaluasi dan perbaikan akan polling serta penyebaran polling yang kurang untuk dapat melengkapi syarat pengambilan sampel sebanyak 30% warga teknik.
Pertemuan kedelapan pada tanggal 15 April 2010 merupakan tanggal dimana rekomendasi waktu untuk pelaksanaan MUKER VII harus sudah ada. Perkembangan hingga sampai tahap ini merupakan perkembangan yang baik dan sesuai dengan alur yang telah disepakati. Pada tanggal ini dilakukan rapat DP MUKER kerja hingga pukul 21.10. Akhir rapat ini menyepakati bahwa rekomendasi waktu dari DP MUKER kepada MPM FTUI 2010 ialah musyawarah kerja ikatan keluarga mahasiswa fakultas teknik universitas Indonesia sebaiknya diadakan pada bulan Januari 2011 pada masa liburan. Namun, keputusan akhir mengenai pelaksanaan MUKER akan disepakati di tingkat MPM FTUI 2010.
Pada tanggal 11 Mei 2010 sidang pleno MPM FTUI 2010 telah menetapkan bahwa pelaksanaan MUKER IKM FTUI akan dilaksanakan pada bulan Januari 2011 dengan menyepakati bahwa program kerja dapat terus berjalan. Sehingga permasalahan akan adanya proker turunan dapat teratasi.
Kritisisasi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah di Indonesia pada saat ini telah menjadi sebuah permasalahan Negara. Hal ini menyebabkan munculnya sebuah undang-undang yang menjadi dasar akan adanya peraturan serta kebijakan tentang pengelolaan sampah. Permasalahan yang telah mencapai tingkat Negara akan meliputi banyak pihak. Oleh karena itu peran serta pihak-pihak yang terkait akan sangat membantu keberlangsungan sistem.
Pengelolaan sampah mencakup sistem secara keseluruhan. Pengelolaan sampah dimulai dari penanganan asal-muasal timbulan sampah hingga pemprosesan sampah akhir. Keadaan ditiap tahap akan menentukan keberhasilan sistem pengelolaan ini.
Undang-undang nomor 18 tahun 2008 merupakan sebuah keberhasilan pemerintah sebagai wujud nyata dari perhatian pemerintah kepada lingkungan khususnya persampahan. Undang-undang ini menjelaskan akan beberapa hal yang menjadi dasar pembuatan kebijakan lainnya di tingkat daerah. Melihat dari keberadaannya, undang-undang ini sangatlah penting dan akan menimbulkan dampak yang besar terhadap perubahan lingkungan saat ini, khususnya apabila pelaksanaan undang-undang ini berjalan sesuai dengan semestinya.
Undang-undang nomor 18 tahun 2008 merupakan undang-undang baru, bukan revisi atas undang-undang sebelumnya. Isi dari undang-undang inipun masih berkesan jauh dari realita. Hal ini memang membutuhkan proses yang cukup panjang, dimana proses itulah yang akan melingkupi seluruh pihak hingga pada akhirnya sistem idealis yang ada dalam undang-undang dapat berjalan sempurna.
Kritisisasi undang-undang yang penulis sampaikan lebih pada penekanan akan pentingnya kontrolisasi pelaksanaan dan sosialisasi undang-undang. Secara isi, undang-undang ini telah bagus sebagai cita-cita atau idealisme pengelolaan sampah. Bukan hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang sesuai dengan sistem undang-undang ini. Pada saat ini yang dibutuhkan ialah pemahaman untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik, lebih dari sekedar kebijakan semata. Pemahaman akan adanya cita-cita lingkungan yang lebih baik dan realita keadaan saat ini akan membuat kita sebagai masyarakat seharusnya menjadi sadar dan mengetahui proses yang harus dijalankan.
Sampah bukanlah hanya masalah negara, tetapi lebih dari itu. Sampah ialah permasalahan seluruh masyarakat bersama. Oleh karena itu keterlibatan seluruh pihak sangat dibutuhkan. Masyarakat pun tidak boleh hanya menuntut hak kepada negara tanpa menjalankan kewajibannya. Peran serta tiap aspek telah baik dijelaskan dalam undang-undang ini.
Langkah pasti untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dalam sistem pengelolaan sampah ialah dengan bersama-sama dari seluruh aspek kehidupan.
Masyarakatpun akhirnya harus disadari akan makna dari ”Think Globally, Act Locally”
Tanpa masyarakat, pemerintah bukanlah apa-apa. Tanpa pemerintah, masyarakat juga bukan siapa-siapa. Kerjasama antar keduanya sangat diperlukan.
Pengelolaan sampah mencakup sistem secara keseluruhan. Pengelolaan sampah dimulai dari penanganan asal-muasal timbulan sampah hingga pemprosesan sampah akhir. Keadaan ditiap tahap akan menentukan keberhasilan sistem pengelolaan ini.
Undang-undang nomor 18 tahun 2008 merupakan sebuah keberhasilan pemerintah sebagai wujud nyata dari perhatian pemerintah kepada lingkungan khususnya persampahan. Undang-undang ini menjelaskan akan beberapa hal yang menjadi dasar pembuatan kebijakan lainnya di tingkat daerah. Melihat dari keberadaannya, undang-undang ini sangatlah penting dan akan menimbulkan dampak yang besar terhadap perubahan lingkungan saat ini, khususnya apabila pelaksanaan undang-undang ini berjalan sesuai dengan semestinya.
Undang-undang nomor 18 tahun 2008 merupakan undang-undang baru, bukan revisi atas undang-undang sebelumnya. Isi dari undang-undang inipun masih berkesan jauh dari realita. Hal ini memang membutuhkan proses yang cukup panjang, dimana proses itulah yang akan melingkupi seluruh pihak hingga pada akhirnya sistem idealis yang ada dalam undang-undang dapat berjalan sempurna.
Kritisisasi undang-undang yang penulis sampaikan lebih pada penekanan akan pentingnya kontrolisasi pelaksanaan dan sosialisasi undang-undang. Secara isi, undang-undang ini telah bagus sebagai cita-cita atau idealisme pengelolaan sampah. Bukan hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang sesuai dengan sistem undang-undang ini. Pada saat ini yang dibutuhkan ialah pemahaman untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik, lebih dari sekedar kebijakan semata. Pemahaman akan adanya cita-cita lingkungan yang lebih baik dan realita keadaan saat ini akan membuat kita sebagai masyarakat seharusnya menjadi sadar dan mengetahui proses yang harus dijalankan.
Sampah bukanlah hanya masalah negara, tetapi lebih dari itu. Sampah ialah permasalahan seluruh masyarakat bersama. Oleh karena itu keterlibatan seluruh pihak sangat dibutuhkan. Masyarakat pun tidak boleh hanya menuntut hak kepada negara tanpa menjalankan kewajibannya. Peran serta tiap aspek telah baik dijelaskan dalam undang-undang ini.
Langkah pasti untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dalam sistem pengelolaan sampah ialah dengan bersama-sama dari seluruh aspek kehidupan.
Masyarakatpun akhirnya harus disadari akan makna dari ”Think Globally, Act Locally”
Tanpa masyarakat, pemerintah bukanlah apa-apa. Tanpa pemerintah, masyarakat juga bukan siapa-siapa. Kerjasama antar keduanya sangat diperlukan.
Minggu, 21 Maret 2010
Bab 6 Bangunan Sadap Air Baku, Screen dan Aerasi
6.1 Pendahuluan
Bangunan sadap air baku mengambil air dari sungai, danau atau reservoir yang mencukupi ketinggian airnya. Screen menghilangkan objek yang melayang berukuran besar dalam air, selain itu untuk melindungi proses pompa sebelum aliran masuk dalam rumah pompa. Aerasi merupakan unit proses yang dapat menghilangkan gas dan organik mudah menguap yang dapat menyebabkan bau dan rasa dalam penyediaan air. Aerasi digunakan juga untuk mengoksidasi logam terlarut menjadi bentuk oksida tidak larut.
6.2 Struktur Bangunan Sadap Air Baku
Struktur bangunan sadap air baku digunakan untuk mengontrol ketinggian air baku dari sumber air permukaan. Tujuan utamanya ialah untuk memisahkan air dengan zat dalam air seperti partikel, benda melayang, hingga melindungi dari masuknya ikan ke dalam sistem saluran.
Kelengkapan bangunan sadap air baku antara lain:
• Pipa intake
• Pintu air
• Bar screen
• Fine screen
• Pompa
• Bak penampung air baku
• Alat ukur
6.2.2 Pemilihan Bentuk Bangunan Sadap
Pemilihan bangunan sadap didasarkan atas beberapa hal yaitu:
• Kualitas air
Seberapa baik atau buruk kualitas air yang akan diolah, sehingga dapat dikendalikan melalui proses instalasi.
• Kedalaman air
Pada kedalaman tertentu air memiliki tingkat yang lebih baik. Disesuaikan dengan kemampuannya merehabilitasi badan air tersebut. Serta dengan bantuan faktor lingkungan luar.
• Kecepatan aliran
Perlu diketahui alirasn pada bangunan sadap yang akan didesain karena dapat jadi mengganggu kehidupan alami air.
• Kestabilan pondasi
Pondasi sangat penting untuk menopang bangunan yang ada di atasnya.
• Kemudahan pencapaian
Akses masuk dari intake ke dalam instalasi
• Ketersediaan energi
Dalam proses menggerakkan pompa di bangunan sadap
• Kedekatan dengan instalasi pengolah air
Dikhawatirkan terjadi dekomposisi sehingga dapat ditentukan apakah perlu ditambahkan preliminary di sekitar bangunan sadap
• Dampak lingkungan
• Bahaya navigasi
Perlu diperhatikan lingkungan sekitar apakah badan air yang akan disadap digunakan untuk transportasi air atau rekreasi dan sebagainya.
6.2.3 Pertimbangan Desain Bangunan Sadap
Dalam mendesain bangunan sadap beberapa hal spesifik yang harus telah diketahui adalah
• Kecepatan bangunan sadap
• Lokasi bangunan sadap
• Pintu air
• Kontrol es
Bangunan sadap air baku mengambil air dari sungai, danau atau reservoir yang mencukupi ketinggian airnya. Screen menghilangkan objek yang melayang berukuran besar dalam air, selain itu untuk melindungi proses pompa sebelum aliran masuk dalam rumah pompa. Aerasi merupakan unit proses yang dapat menghilangkan gas dan organik mudah menguap yang dapat menyebabkan bau dan rasa dalam penyediaan air. Aerasi digunakan juga untuk mengoksidasi logam terlarut menjadi bentuk oksida tidak larut.
6.2 Struktur Bangunan Sadap Air Baku
Struktur bangunan sadap air baku digunakan untuk mengontrol ketinggian air baku dari sumber air permukaan. Tujuan utamanya ialah untuk memisahkan air dengan zat dalam air seperti partikel, benda melayang, hingga melindungi dari masuknya ikan ke dalam sistem saluran.
Kelengkapan bangunan sadap air baku antara lain:
• Pipa intake
• Pintu air
• Bar screen
• Fine screen
• Pompa
• Bak penampung air baku
• Alat ukur
6.2.2 Pemilihan Bentuk Bangunan Sadap
Pemilihan bangunan sadap didasarkan atas beberapa hal yaitu:
• Kualitas air
Seberapa baik atau buruk kualitas air yang akan diolah, sehingga dapat dikendalikan melalui proses instalasi.
• Kedalaman air
Pada kedalaman tertentu air memiliki tingkat yang lebih baik. Disesuaikan dengan kemampuannya merehabilitasi badan air tersebut. Serta dengan bantuan faktor lingkungan luar.
• Kecepatan aliran
Perlu diketahui alirasn pada bangunan sadap yang akan didesain karena dapat jadi mengganggu kehidupan alami air.
• Kestabilan pondasi
Pondasi sangat penting untuk menopang bangunan yang ada di atasnya.
• Kemudahan pencapaian
Akses masuk dari intake ke dalam instalasi
• Ketersediaan energi
Dalam proses menggerakkan pompa di bangunan sadap
• Kedekatan dengan instalasi pengolah air
Dikhawatirkan terjadi dekomposisi sehingga dapat ditentukan apakah perlu ditambahkan preliminary di sekitar bangunan sadap
• Dampak lingkungan
• Bahaya navigasi
Perlu diperhatikan lingkungan sekitar apakah badan air yang akan disadap digunakan untuk transportasi air atau rekreasi dan sebagainya.
6.2.3 Pertimbangan Desain Bangunan Sadap
Dalam mendesain bangunan sadap beberapa hal spesifik yang harus telah diketahui adalah
• Kecepatan bangunan sadap
• Lokasi bangunan sadap
• Pintu air
• Kontrol es
Langganan:
Postingan (Atom)
Energi (kehidupan)
Apa yang kita ketahui tentang definisi energi? Secara terminologi, banyak definisi energi yang bisa kita ambil. Seperti yang saya ambil da...
-
Bendungan Jatigede merupakan bendungan yang berlokasi di Desa Cijeunjing, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang. Suatu desa yang amat indah...
-
Material recovery facility merupakan subuah bangunan yang digunakan untuk menerima, memilah, memroses dan minyimpan bahan daur ulang untuk d...
-
Kompos sebagai hasil dari pengomposan dan merupakan salah satu pupuk organik yang memiliki fungsi penting terutama dalam bidang pertanian an...