Musyawarah Kerja Ikatan Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang biasa disingkat MUKER IKM FTUI merupakan forum pengambil keputusan tertinggi di fakultas teknik Universitas Indonesia. MUKER IKM FTUI dilaksanakan setiap empat tahun sekali atau bila dianggap perlu. MUKER memiliki wewenang untuk membekukan, mengaktifkan kembali dan membubarkan IKM serta meninjau atau menyempurnakan peraturan-peraturan yang telah ada di IKM FTUI.
MUKER ke-I pada tanggal 14 September 1971 di Tugu, Puncak, Jawa Barat menghasilkan peraturan rumah tangga IKM FTUI. Selanjutnya diubah dan disempurnakan kembali pada MUKER ke-II hingga terakhir pada MUKER ke-VI. MUKER ke-VI dilaksanakan pada tanggal 10-26 Januari 2007.
Pelaksanaan MUKER bukanlah sesuatu yang dianggap mudah. Perlu persiapan yang sangat matang untuk dapat memperbaiki keberlangsungan IKM FTUI. Dalam pelaksanaannya MPM FTUI sebagai lembaga tertinggi di IKM FTUI membentuk dewan pengarah yang bertugas untuk membuat materi MUKER. Dewan pengarah MUKER atau biasa disingkat DP MUKER terdiri atas satu perwakilan tiap lembaga IKM FTUI dan anggota IKM aktif yang mendaftar.
Pada saat ini, menjelang MUKER ke-VII, MPM FTUI periode 2010 telah membentuk DP MUKER. DP MUKER VII tercatat memiliki anggota sebanyak 50 orang terdiri atas 24 perwakilan lembaga dan 26 anggota IKM aktif yang mendaftar. Khusus untuk DP MUKER ke-VII ini memiliki tugas tambahan yaitu rekomendasi waktu pelaksanaan MUKER VII ke MPM FTUI 2010 paling lambat 15 April 2010.
Perjalanan DP MUKER VII dimulai dari pertemuan pertama pada tanggal 4 Maret 2010, bertempat di Ruang BEM Pusgiwa FTUI. Pertemuan pertama ini sebagai wadah perkenalan, penyamaan persepsi mengenai MUKER hingga tata tertib dalam ruang lingkup DP MUKER itu sendiri.
Pertemuan kedua pada tanggal 9 Maret 2010 di tempat yang sama dilakukan pembahasan mengenai alur yang akan dilakukan. Setelah melewati proses dan berbagai pertimbangan, akhirnya dicapai sebuah kesepakatan alur. Kesepatakan alur yang akan digunakan sebagai kerangka kerja DP MUKER yaitu penentuan masalah, pengelompokkan masalah, pemprioritaskan masalah, pengkajian masalah, solusi masalah, dampak solusi masalah dan terakhir alternatif solusi.
Pertemuan ketiga pada tanggal 11 Maret 2010 dilakukan pembahasan mengenai sumber informasi yang dapat diambil sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan MUKER VII serta metode penentuan informasi yang akan dilakukan. Sumber informasi meliputi mahasiswa termasuk DP MUKER dan warga teknik, BPH dan BP lembaga, dosen, alumni, birokrat, warga kutek, pedagang kantek, satpam dan karyawan. Sedangkan metode penentuan informasi dilakukan dengan cara bertukar wawasan dan melalui polling.
Pertemuan keempat pada tanggal 17 Maret 2010 dilakukan pembahasan mengenai list masalah yang berasal dari DP MUKER melewati esai yang dibuat ketika hendak masuk sebagai DP MUKER. Masalah-masalah yang muncul cukup banyak, namun dalam pembahasan ini dilakukan pemilihan masalah yang disepakati bersama untuk dikaji lebih mendalam. Kesepatan akan masalah yang ada yaitu periodisasi, keanggotaan IKM, Badan Otonom (BO) / Badan Semi Otonom (BSO) / Klub Peminatan Departemen (KPD), kelas paralel, Proses Pembekalan Anggota Muda (PPAM), Keuangan, Pemilu, Demisioner, Proker turunan, rangkap jabatan, BPH kepanitian, dan Badan Khusus Kerohanian (BKK).
Pertemuan kelima pada tanggal 25 Maret 2010 dilakukan pembahasan pada tahap pengelompokkan masalah. Tahap ini merupakan tahap kedua dari alur yang telah disepakati. Pada tahap ini dilakukan pengelompokkan masalah dari list permasalahan yang sudah muncul pada pertemuan sebelumnya. Setelah melewati proses dan pertimbangan didapatkan pembagian kelompok masalah adalah pemilu dan periodisasi (meliputi periodisasi, pemilu dan demisioner), keanggotaan IKM (meliputi kelas paralel), Klub (meliputi BO, BSO dan KPD), kelembagaan (meliputi proker turunan, BPH kepanitiaan, rangkap jabatan dan BKK), keuangan dan pembinaan (meliputi PPAM). Kelompok masalah yang telah disepakati akan diberikan ke warga teknik untuk kemudian dikomentari dan diprioritaskan melalui media polling.
Pertemuan keenam pada tanggal 6 April 2010 dilakukan penyepakatan dan penyebaran polling kepada warga departemen. Polling yang disebar disesuaikan dengan metode pengambilan sample, yaitu 30% dari total seluruh warga yang ada. Pada pertemuan ini dibahas akan teknis penyebaran polling.
Pertemuan ketujuh tanggal 13 April 2010 seharusnya telah dapat disimpulkan hasil polling dan prioritas masalah yang muncul dari warga. Namun terdapat beberapa kekeliruan teknis dilapangan pada saat penyebaran polling, sehingga pada pertemuan ini dilakukan evaluasi dan perbaikan akan polling serta penyebaran polling yang kurang untuk dapat melengkapi syarat pengambilan sampel sebanyak 30% warga teknik.
Pertemuan kedelapan pada tanggal 15 April 2010 merupakan tanggal dimana rekomendasi waktu untuk pelaksanaan MUKER VII harus sudah ada. Perkembangan hingga sampai tahap ini merupakan perkembangan yang baik dan sesuai dengan alur yang telah disepakati. Pada tanggal ini dilakukan rapat DP MUKER kerja hingga pukul 21.10. Akhir rapat ini menyepakati bahwa rekomendasi waktu dari DP MUKER kepada MPM FTUI 2010 ialah musyawarah kerja ikatan keluarga mahasiswa fakultas teknik universitas Indonesia sebaiknya diadakan pada bulan Januari 2011 pada masa liburan. Namun, keputusan akhir mengenai pelaksanaan MUKER akan disepakati di tingkat MPM FTUI 2010.
Pada tanggal 11 Mei 2010 sidang pleno MPM FTUI 2010 telah menetapkan bahwa pelaksanaan MUKER IKM FTUI akan dilaksanakan pada bulan Januari 2011 dengan menyepakati bahwa program kerja dapat terus berjalan. Sehingga permasalahan akan adanya proker turunan dapat teratasi.
Rabu, 12 Mei 2010
Kritisisasi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah di Indonesia pada saat ini telah menjadi sebuah permasalahan Negara. Hal ini menyebabkan munculnya sebuah undang-undang yang menjadi dasar akan adanya peraturan serta kebijakan tentang pengelolaan sampah. Permasalahan yang telah mencapai tingkat Negara akan meliputi banyak pihak. Oleh karena itu peran serta pihak-pihak yang terkait akan sangat membantu keberlangsungan sistem.
Pengelolaan sampah mencakup sistem secara keseluruhan. Pengelolaan sampah dimulai dari penanganan asal-muasal timbulan sampah hingga pemprosesan sampah akhir. Keadaan ditiap tahap akan menentukan keberhasilan sistem pengelolaan ini.
Undang-undang nomor 18 tahun 2008 merupakan sebuah keberhasilan pemerintah sebagai wujud nyata dari perhatian pemerintah kepada lingkungan khususnya persampahan. Undang-undang ini menjelaskan akan beberapa hal yang menjadi dasar pembuatan kebijakan lainnya di tingkat daerah. Melihat dari keberadaannya, undang-undang ini sangatlah penting dan akan menimbulkan dampak yang besar terhadap perubahan lingkungan saat ini, khususnya apabila pelaksanaan undang-undang ini berjalan sesuai dengan semestinya.
Undang-undang nomor 18 tahun 2008 merupakan undang-undang baru, bukan revisi atas undang-undang sebelumnya. Isi dari undang-undang inipun masih berkesan jauh dari realita. Hal ini memang membutuhkan proses yang cukup panjang, dimana proses itulah yang akan melingkupi seluruh pihak hingga pada akhirnya sistem idealis yang ada dalam undang-undang dapat berjalan sempurna.
Kritisisasi undang-undang yang penulis sampaikan lebih pada penekanan akan pentingnya kontrolisasi pelaksanaan dan sosialisasi undang-undang. Secara isi, undang-undang ini telah bagus sebagai cita-cita atau idealisme pengelolaan sampah. Bukan hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang sesuai dengan sistem undang-undang ini. Pada saat ini yang dibutuhkan ialah pemahaman untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik, lebih dari sekedar kebijakan semata. Pemahaman akan adanya cita-cita lingkungan yang lebih baik dan realita keadaan saat ini akan membuat kita sebagai masyarakat seharusnya menjadi sadar dan mengetahui proses yang harus dijalankan.
Sampah bukanlah hanya masalah negara, tetapi lebih dari itu. Sampah ialah permasalahan seluruh masyarakat bersama. Oleh karena itu keterlibatan seluruh pihak sangat dibutuhkan. Masyarakat pun tidak boleh hanya menuntut hak kepada negara tanpa menjalankan kewajibannya. Peran serta tiap aspek telah baik dijelaskan dalam undang-undang ini.
Langkah pasti untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dalam sistem pengelolaan sampah ialah dengan bersama-sama dari seluruh aspek kehidupan.
Masyarakatpun akhirnya harus disadari akan makna dari ”Think Globally, Act Locally”
Tanpa masyarakat, pemerintah bukanlah apa-apa. Tanpa pemerintah, masyarakat juga bukan siapa-siapa. Kerjasama antar keduanya sangat diperlukan.
Pengelolaan sampah mencakup sistem secara keseluruhan. Pengelolaan sampah dimulai dari penanganan asal-muasal timbulan sampah hingga pemprosesan sampah akhir. Keadaan ditiap tahap akan menentukan keberhasilan sistem pengelolaan ini.
Undang-undang nomor 18 tahun 2008 merupakan sebuah keberhasilan pemerintah sebagai wujud nyata dari perhatian pemerintah kepada lingkungan khususnya persampahan. Undang-undang ini menjelaskan akan beberapa hal yang menjadi dasar pembuatan kebijakan lainnya di tingkat daerah. Melihat dari keberadaannya, undang-undang ini sangatlah penting dan akan menimbulkan dampak yang besar terhadap perubahan lingkungan saat ini, khususnya apabila pelaksanaan undang-undang ini berjalan sesuai dengan semestinya.
Undang-undang nomor 18 tahun 2008 merupakan undang-undang baru, bukan revisi atas undang-undang sebelumnya. Isi dari undang-undang inipun masih berkesan jauh dari realita. Hal ini memang membutuhkan proses yang cukup panjang, dimana proses itulah yang akan melingkupi seluruh pihak hingga pada akhirnya sistem idealis yang ada dalam undang-undang dapat berjalan sempurna.
Kritisisasi undang-undang yang penulis sampaikan lebih pada penekanan akan pentingnya kontrolisasi pelaksanaan dan sosialisasi undang-undang. Secara isi, undang-undang ini telah bagus sebagai cita-cita atau idealisme pengelolaan sampah. Bukan hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang sesuai dengan sistem undang-undang ini. Pada saat ini yang dibutuhkan ialah pemahaman untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik, lebih dari sekedar kebijakan semata. Pemahaman akan adanya cita-cita lingkungan yang lebih baik dan realita keadaan saat ini akan membuat kita sebagai masyarakat seharusnya menjadi sadar dan mengetahui proses yang harus dijalankan.
Sampah bukanlah hanya masalah negara, tetapi lebih dari itu. Sampah ialah permasalahan seluruh masyarakat bersama. Oleh karena itu keterlibatan seluruh pihak sangat dibutuhkan. Masyarakat pun tidak boleh hanya menuntut hak kepada negara tanpa menjalankan kewajibannya. Peran serta tiap aspek telah baik dijelaskan dalam undang-undang ini.
Langkah pasti untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dalam sistem pengelolaan sampah ialah dengan bersama-sama dari seluruh aspek kehidupan.
Masyarakatpun akhirnya harus disadari akan makna dari ”Think Globally, Act Locally”
Tanpa masyarakat, pemerintah bukanlah apa-apa. Tanpa pemerintah, masyarakat juga bukan siapa-siapa. Kerjasama antar keduanya sangat diperlukan.
Minggu, 21 Maret 2010
Bab 6 Bangunan Sadap Air Baku, Screen dan Aerasi
6.1 Pendahuluan
Bangunan sadap air baku mengambil air dari sungai, danau atau reservoir yang mencukupi ketinggian airnya. Screen menghilangkan objek yang melayang berukuran besar dalam air, selain itu untuk melindungi proses pompa sebelum aliran masuk dalam rumah pompa. Aerasi merupakan unit proses yang dapat menghilangkan gas dan organik mudah menguap yang dapat menyebabkan bau dan rasa dalam penyediaan air. Aerasi digunakan juga untuk mengoksidasi logam terlarut menjadi bentuk oksida tidak larut.
6.2 Struktur Bangunan Sadap Air Baku
Struktur bangunan sadap air baku digunakan untuk mengontrol ketinggian air baku dari sumber air permukaan. Tujuan utamanya ialah untuk memisahkan air dengan zat dalam air seperti partikel, benda melayang, hingga melindungi dari masuknya ikan ke dalam sistem saluran.
Kelengkapan bangunan sadap air baku antara lain:
• Pipa intake
• Pintu air
• Bar screen
• Fine screen
• Pompa
• Bak penampung air baku
• Alat ukur
6.2.2 Pemilihan Bentuk Bangunan Sadap
Pemilihan bangunan sadap didasarkan atas beberapa hal yaitu:
• Kualitas air
Seberapa baik atau buruk kualitas air yang akan diolah, sehingga dapat dikendalikan melalui proses instalasi.
• Kedalaman air
Pada kedalaman tertentu air memiliki tingkat yang lebih baik. Disesuaikan dengan kemampuannya merehabilitasi badan air tersebut. Serta dengan bantuan faktor lingkungan luar.
• Kecepatan aliran
Perlu diketahui alirasn pada bangunan sadap yang akan didesain karena dapat jadi mengganggu kehidupan alami air.
• Kestabilan pondasi
Pondasi sangat penting untuk menopang bangunan yang ada di atasnya.
• Kemudahan pencapaian
Akses masuk dari intake ke dalam instalasi
• Ketersediaan energi
Dalam proses menggerakkan pompa di bangunan sadap
• Kedekatan dengan instalasi pengolah air
Dikhawatirkan terjadi dekomposisi sehingga dapat ditentukan apakah perlu ditambahkan preliminary di sekitar bangunan sadap
• Dampak lingkungan
• Bahaya navigasi
Perlu diperhatikan lingkungan sekitar apakah badan air yang akan disadap digunakan untuk transportasi air atau rekreasi dan sebagainya.
6.2.3 Pertimbangan Desain Bangunan Sadap
Dalam mendesain bangunan sadap beberapa hal spesifik yang harus telah diketahui adalah
• Kecepatan bangunan sadap
• Lokasi bangunan sadap
• Pintu air
• Kontrol es
Bangunan sadap air baku mengambil air dari sungai, danau atau reservoir yang mencukupi ketinggian airnya. Screen menghilangkan objek yang melayang berukuran besar dalam air, selain itu untuk melindungi proses pompa sebelum aliran masuk dalam rumah pompa. Aerasi merupakan unit proses yang dapat menghilangkan gas dan organik mudah menguap yang dapat menyebabkan bau dan rasa dalam penyediaan air. Aerasi digunakan juga untuk mengoksidasi logam terlarut menjadi bentuk oksida tidak larut.
6.2 Struktur Bangunan Sadap Air Baku
Struktur bangunan sadap air baku digunakan untuk mengontrol ketinggian air baku dari sumber air permukaan. Tujuan utamanya ialah untuk memisahkan air dengan zat dalam air seperti partikel, benda melayang, hingga melindungi dari masuknya ikan ke dalam sistem saluran.
Kelengkapan bangunan sadap air baku antara lain:
• Pipa intake
• Pintu air
• Bar screen
• Fine screen
• Pompa
• Bak penampung air baku
• Alat ukur
6.2.2 Pemilihan Bentuk Bangunan Sadap
Pemilihan bangunan sadap didasarkan atas beberapa hal yaitu:
• Kualitas air
Seberapa baik atau buruk kualitas air yang akan diolah, sehingga dapat dikendalikan melalui proses instalasi.
• Kedalaman air
Pada kedalaman tertentu air memiliki tingkat yang lebih baik. Disesuaikan dengan kemampuannya merehabilitasi badan air tersebut. Serta dengan bantuan faktor lingkungan luar.
• Kecepatan aliran
Perlu diketahui alirasn pada bangunan sadap yang akan didesain karena dapat jadi mengganggu kehidupan alami air.
• Kestabilan pondasi
Pondasi sangat penting untuk menopang bangunan yang ada di atasnya.
• Kemudahan pencapaian
Akses masuk dari intake ke dalam instalasi
• Ketersediaan energi
Dalam proses menggerakkan pompa di bangunan sadap
• Kedekatan dengan instalasi pengolah air
Dikhawatirkan terjadi dekomposisi sehingga dapat ditentukan apakah perlu ditambahkan preliminary di sekitar bangunan sadap
• Dampak lingkungan
• Bahaya navigasi
Perlu diperhatikan lingkungan sekitar apakah badan air yang akan disadap digunakan untuk transportasi air atau rekreasi dan sebagainya.
6.2.3 Pertimbangan Desain Bangunan Sadap
Dalam mendesain bangunan sadap beberapa hal spesifik yang harus telah diketahui adalah
• Kecepatan bangunan sadap
• Lokasi bangunan sadap
• Pintu air
• Kontrol es
Senin, 15 Februari 2010
Lebih dari Sekedar Mahasiswa
Mahasiswa. Suatu masa dimana seseorang dapat merasakan pendidikan yang lebih di bangku perguruan tinggi. Suatu masa dimana seseorang menjadi bernilai lebih di mata masyarakat. Suatu masa dimana seseorang menjadi penyambung antara pemerintah dengan rakyat. Suatu masa dimana seseorang dengan lantang dapat menyerukan kritikan hingga menjatuhkan suatu rezim pemerintah. Itulah sedikit gambaran akan mahasiswa.
Kemahasiswaan merupakan segala sesuatu yang berkenaan dengan mahasiswa. Berdasarkan kewajiban sesorang mahasiawa, kemahasiswaan dapat dibagi menjadi dua; kewajiban secara akademis dan kewajiban secara non akademis. Kedua hal ini menjadi suatu kewajiban yang ada pada seorang mahasiswa yang berlandaskan pada kebutuhan pasar di persaingan dunia nyata. Kedua hal ini merupakan hal penting dan utama yang dapat menumbuhkan suatu kreatifitas maupun inovasi kemajuan perkembangan negeri.
Kenyataannya yang terjadi saat ini, pelaksanaan kewajiban mahasiswa hanya terarah pada kewajiban akademis saja. Tidak dapat disalahkan jua, beban-beban akademis yang dirasakan semakin berat serta pembatasan masa belajar di perguruan tinggipun menuntut agar mahasiswa lebih fokus pada kewajiban akademisnya saja. Namun itulah seharusnya yang menjadi tantangan zaman ini. Mahasiswa saat ini dituntut agar dapat menyeimbangkan antara kewajiban akademis maupun non akademisnya. Kenapa tidak, mahasiswa haruslah tetap memiliki kemampuan hingga keahlian dalam bidang non akademis, seperti kemampuan manajemen waktu hingga kepemimpinan. Keahlian seperti itu tidak didapatkan secara teori saja, namun didapatkan dengan pengalaman dalam berorganisasi.
Perguruan tinggi dimana lembaga kemahasiswaannya mati hanya akan mencetak para pekerja yang hanya bekerja saja tanpa mempedulikan lingkungan sekitar, tanpa peduli akan kejadian disekelilingnya. Adanya lembaga kemahasiswaan menjadikan mahasiswa belajar untuk peduli pada keadaan sekitar yang sedang terjadi. Kepedulian itulah yang kini mulai hilang.
Universitas Indonesia yang dulu terkenal akan Kampus Perjuangan, dimana pejuang-pejuang kemahasiswaan terlahir dari kampus ini kini telah menurun kemampuannya dalam mencetak generasi pejuang. Benarkah itu? Buktikan bahwa kampus ini masih memiliki generasi pejuang yang dapat membangkitkan kembali kemahasiswaan demi mewujudkan perbaikan negeri kedepannya.
Jadilah saksi hidup perjuangan bangkitnya negeri ini. Hidup Mahasiswa!
Kemahasiswaan merupakan segala sesuatu yang berkenaan dengan mahasiswa. Berdasarkan kewajiban sesorang mahasiawa, kemahasiswaan dapat dibagi menjadi dua; kewajiban secara akademis dan kewajiban secara non akademis. Kedua hal ini menjadi suatu kewajiban yang ada pada seorang mahasiswa yang berlandaskan pada kebutuhan pasar di persaingan dunia nyata. Kedua hal ini merupakan hal penting dan utama yang dapat menumbuhkan suatu kreatifitas maupun inovasi kemajuan perkembangan negeri.
Kenyataannya yang terjadi saat ini, pelaksanaan kewajiban mahasiswa hanya terarah pada kewajiban akademis saja. Tidak dapat disalahkan jua, beban-beban akademis yang dirasakan semakin berat serta pembatasan masa belajar di perguruan tinggipun menuntut agar mahasiswa lebih fokus pada kewajiban akademisnya saja. Namun itulah seharusnya yang menjadi tantangan zaman ini. Mahasiswa saat ini dituntut agar dapat menyeimbangkan antara kewajiban akademis maupun non akademisnya. Kenapa tidak, mahasiswa haruslah tetap memiliki kemampuan hingga keahlian dalam bidang non akademis, seperti kemampuan manajemen waktu hingga kepemimpinan. Keahlian seperti itu tidak didapatkan secara teori saja, namun didapatkan dengan pengalaman dalam berorganisasi.
Perguruan tinggi dimana lembaga kemahasiswaannya mati hanya akan mencetak para pekerja yang hanya bekerja saja tanpa mempedulikan lingkungan sekitar, tanpa peduli akan kejadian disekelilingnya. Adanya lembaga kemahasiswaan menjadikan mahasiswa belajar untuk peduli pada keadaan sekitar yang sedang terjadi. Kepedulian itulah yang kini mulai hilang.
Universitas Indonesia yang dulu terkenal akan Kampus Perjuangan, dimana pejuang-pejuang kemahasiswaan terlahir dari kampus ini kini telah menurun kemampuannya dalam mencetak generasi pejuang. Benarkah itu? Buktikan bahwa kampus ini masih memiliki generasi pejuang yang dapat membangkitkan kembali kemahasiswaan demi mewujudkan perbaikan negeri kedepannya.
Jadilah saksi hidup perjuangan bangkitnya negeri ini. Hidup Mahasiswa!
Evolusi Managemen Limbah Padat
1.1 Limbah Padat Konsekuensi Hidup
Dahulu ketika penduduk atau masyarakat sedikit, limbah tidak menjadi sebuah permasalahan. Permasalahan mengenai limbah mulai muncul ketika manusia berada di suatu kelompok atau komunitas dimana akumulasi limbah akan menjadi konsekuensi dalam hidupnya.
Fenomena ekologi seperti polusi udara dan air dianggap berasal dari penanganan limbah padat yang salah serta rekayasa landfill yang buruk, sehingga mengontaminasi air permukaan dan air tanah. Daerah pertambangan menghasilkan leachet yang mengandung bahan beracun yang dapat mengontaminasi sumber air.
1.2 Timbulan Limbah dalam Masyarakat Berteknologi
Perkembangan masyarakat berteknologi di United States dimulai pada saat Revolusi Industri di Eropa, mengakibatkan penaikan pada permasalahan pengelolaan limbah padat. Untuk memahami permasalahan secara alami dapat ditinjau dari skema bahan dan membentuk kelompok angkatan penghasil limbah dalam masyarakat teknologi serta memandang efek atau dampak langsung akibat kecanggihan teknologi pada desain fasilitas limbah padat.
Skema Bahan dan Pembentukan Timbulan Limbah

Skema 1. Skema Bahan dan Pembentukan Timbulan Limbah
Sebuah jalan terbaik untuk mereduksi sejumlah limbah padat yaitu dengan membatasi penggunaan bahan baku serta menaikkan rata-rata daur ulang dan penggunaan kembali bahan limbah.
Efek Kecanggihan Teknologi
Teknologi modern dalam pengepakan dapat merubah parameter-parameter dalam mendesain fasilitas limbah padat. Respon teknis untuk mendesain fasilitas limbah padat harus memperhatikan trend. Prediksikan seluruh perubahan teknologi yang dapat berakibat pada perubahan karakteristik limbah padat.
1.3 Perkembangan Managemen Limbah Padat
Solid Waste Management atau Manajemen Limbah Padat didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang dapat mengontrol generasi, penyimpanan, pengoleksian, pemindahan dan pengalihan, pemprosesan dan pengolahan limbah padat dalam berbagai cara yang didasarkan pada prinsip dasar kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik, konservasi, estetika, dan kondisi lingkungan lainnya dan dapat dilihat dari respon tingkah laku masyarakat.
Elemen Fungsi dari Sistem Manajemen Limbah
Terdapat enam fungsi elemen dalam sistem manajemen limbah yaitu generasi penghasil limbah, pembagian dan penanganan, penyimpanan dan pemprosesan di sumber, pengumpulan, pembagian dan pemprosesan serta transformasi limbah padat, pemindahan dan pengangkutan serta pembuangan.
Hubungan antaran keenam fungsi elemen ditunjukkan pada skema dibawah

Skema 2. Hubungan Tiap Fungsi Elemen dalam Sistem Manajemen Limbah
Dengan memahami tiap fungsi elemen, hal ini memungkinkan untuk dapat mengidentifikasi aspek fundamental dan hubungan tiap elemen serta dapat dilakukan pengembangan jika kondisi memungkinkan.
1.4 Integrated Solid Waste Management (ISWM)
Integrated Solid Waste Management atau disingkat menjadi ISWM dapat didefinisikan sebagai teknik, teknologi dan program manajemen untuk mengumpulkan limbah spesifik secara lebih menyeluruh.
Hirarki Integrated Solid Waste Management(ISWM)
Hirarki yang diadopsi dari United States Environmental Protection Agency (EPA) mengandung beberapa elemen, yaitu sumber pengurangan, daur ulang, perubahan limbah dan landfill.
1.5 Operasi Sistem Managemen Limbah Padat
Perencanaan teknik manajemen limbah padat meliputi aspek sosial, politik dan factor teknis. Beberapa manajemen isu limbah padat dan pilihan masa depan serta tantangannya antara lain:
Manajemen isu meliputi standar peraturan pengamanan, improvisasi metode untuk interpetasi data, identifikasi bahaya dan racun, pembayaran untuk inprovisasi unit manajemen limbah, desain unit pengolahan lahan, dan perawatan untuk pengembangan dan operasi unit manajemen limbah.
Pilihan dan tantangan masa depan meliputi perubahan pola konsumsi di masyarakat, pengurangan volume limbah dari sumber, pembuatan pengaman landfill serta pengembangan teknologi baru.
Dahulu ketika penduduk atau masyarakat sedikit, limbah tidak menjadi sebuah permasalahan. Permasalahan mengenai limbah mulai muncul ketika manusia berada di suatu kelompok atau komunitas dimana akumulasi limbah akan menjadi konsekuensi dalam hidupnya.
Fenomena ekologi seperti polusi udara dan air dianggap berasal dari penanganan limbah padat yang salah serta rekayasa landfill yang buruk, sehingga mengontaminasi air permukaan dan air tanah. Daerah pertambangan menghasilkan leachet yang mengandung bahan beracun yang dapat mengontaminasi sumber air.
1.2 Timbulan Limbah dalam Masyarakat Berteknologi
Perkembangan masyarakat berteknologi di United States dimulai pada saat Revolusi Industri di Eropa, mengakibatkan penaikan pada permasalahan pengelolaan limbah padat. Untuk memahami permasalahan secara alami dapat ditinjau dari skema bahan dan membentuk kelompok angkatan penghasil limbah dalam masyarakat teknologi serta memandang efek atau dampak langsung akibat kecanggihan teknologi pada desain fasilitas limbah padat.
Skema Bahan dan Pembentukan Timbulan Limbah

Skema 1. Skema Bahan dan Pembentukan Timbulan Limbah
Sebuah jalan terbaik untuk mereduksi sejumlah limbah padat yaitu dengan membatasi penggunaan bahan baku serta menaikkan rata-rata daur ulang dan penggunaan kembali bahan limbah.
Efek Kecanggihan Teknologi
Teknologi modern dalam pengepakan dapat merubah parameter-parameter dalam mendesain fasilitas limbah padat. Respon teknis untuk mendesain fasilitas limbah padat harus memperhatikan trend. Prediksikan seluruh perubahan teknologi yang dapat berakibat pada perubahan karakteristik limbah padat.
1.3 Perkembangan Managemen Limbah Padat
Solid Waste Management atau Manajemen Limbah Padat didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang dapat mengontrol generasi, penyimpanan, pengoleksian, pemindahan dan pengalihan, pemprosesan dan pengolahan limbah padat dalam berbagai cara yang didasarkan pada prinsip dasar kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik, konservasi, estetika, dan kondisi lingkungan lainnya dan dapat dilihat dari respon tingkah laku masyarakat.
Elemen Fungsi dari Sistem Manajemen Limbah
Terdapat enam fungsi elemen dalam sistem manajemen limbah yaitu generasi penghasil limbah, pembagian dan penanganan, penyimpanan dan pemprosesan di sumber, pengumpulan, pembagian dan pemprosesan serta transformasi limbah padat, pemindahan dan pengangkutan serta pembuangan.
Hubungan antaran keenam fungsi elemen ditunjukkan pada skema dibawah

Skema 2. Hubungan Tiap Fungsi Elemen dalam Sistem Manajemen Limbah
Dengan memahami tiap fungsi elemen, hal ini memungkinkan untuk dapat mengidentifikasi aspek fundamental dan hubungan tiap elemen serta dapat dilakukan pengembangan jika kondisi memungkinkan.
1.4 Integrated Solid Waste Management (ISWM)
Integrated Solid Waste Management atau disingkat menjadi ISWM dapat didefinisikan sebagai teknik, teknologi dan program manajemen untuk mengumpulkan limbah spesifik secara lebih menyeluruh.
Hirarki Integrated Solid Waste Management(ISWM)
Hirarki yang diadopsi dari United States Environmental Protection Agency (EPA) mengandung beberapa elemen, yaitu sumber pengurangan, daur ulang, perubahan limbah dan landfill.
1.5 Operasi Sistem Managemen Limbah Padat
Perencanaan teknik manajemen limbah padat meliputi aspek sosial, politik dan factor teknis. Beberapa manajemen isu limbah padat dan pilihan masa depan serta tantangannya antara lain:
Manajemen isu meliputi standar peraturan pengamanan, improvisasi metode untuk interpetasi data, identifikasi bahaya dan racun, pembayaran untuk inprovisasi unit manajemen limbah, desain unit pengolahan lahan, dan perawatan untuk pengembangan dan operasi unit manajemen limbah.
Pilihan dan tantangan masa depan meliputi perubahan pola konsumsi di masyarakat, pengurangan volume limbah dari sumber, pembuatan pengaman landfill serta pengembangan teknologi baru.
Senin, 11 Januari 2010
Keberuntungan itu masih ada
Tak ada manusia yang tak beruntung
Lihatlah matamu, masih bisa melihat
Lihatlah hidungmu, masih bisa bernafas
Lihatlah bibirmu, masih dapat berucap
Jangan kau katakan dirimu tak beruntung
Karena keberuntungan sejati tak dilihat dari
Seberapa besar nilaimu
Seberapa besar penghasilanmu
Seberapa tinggi jabatanmu
Kebetuntungan sejati ialah
Seberapa besar dirimu bermanfaat
Seberapa besar dirimu berkontribusi
Seberapa banyak orang bersyukur atas keberadaanmu
Manusia paling beruntung ialah manusia yang paling bermanfaat untuk sekitar
Manusia yang melakukan perbaikan bukan hanya untuk dirinya
Jika hari ini lebih baik dari kemarin
Kita termasuk orang yang beruntung
Jika hari ini sama dengan kemarin
Kita termasuk orang yang merugi
Jika hari ini lebih buruk dari kemarin
Celakalah kita
Menjadi orang yang beruntung cukuplah dengan menjadi lebih baik dari kemarin!!!
Jangan khawatir keberuntungan itu masih ada...
Bersemangatlah menjadi manusia yang lebih baik...
Lihatlah matamu, masih bisa melihat
Lihatlah hidungmu, masih bisa bernafas
Lihatlah bibirmu, masih dapat berucap
Jangan kau katakan dirimu tak beruntung
Karena keberuntungan sejati tak dilihat dari
Seberapa besar nilaimu
Seberapa besar penghasilanmu
Seberapa tinggi jabatanmu
Kebetuntungan sejati ialah
Seberapa besar dirimu bermanfaat
Seberapa besar dirimu berkontribusi
Seberapa banyak orang bersyukur atas keberadaanmu
Manusia paling beruntung ialah manusia yang paling bermanfaat untuk sekitar
Manusia yang melakukan perbaikan bukan hanya untuk dirinya
Jika hari ini lebih baik dari kemarin
Kita termasuk orang yang beruntung
Jika hari ini sama dengan kemarin
Kita termasuk orang yang merugi
Jika hari ini lebih buruk dari kemarin
Celakalah kita
Menjadi orang yang beruntung cukuplah dengan menjadi lebih baik dari kemarin!!!
Jangan khawatir keberuntungan itu masih ada...
Bersemangatlah menjadi manusia yang lebih baik...
Sabtu, 14 November 2009
Hubungan Jar Test dengan Unit Operasi dan Proses
Secara garis besar, mekanisme koagulasi dan flokulasi adalah :
1. Destabilisasi muatan negatip partikel oleh muatan positip dari koagulan
2. Tumbukan antar partikel
3. Adsorpsi
Selain tumbukan antar partikel terdestabilisasi/mikroflok yang bertujuan membentuk flok dengan ukuran yang relatif besar (makroflok), adsorpsi merupakan mekanisme flokulasi diantaranya dilakukan oleh Al(OH)3, aluminium hidroksida yaitu bentuk hidroksida Al, hasil reaksi hidrolisa Al dengan air. Senyawa ini berbentuk agar-agar (jelly) yang mempunyai sifat “adsorpsi (menyerap di permukaan).
Jika kekuatan ionik di dalam air cukup besar, maka keberadaan koloid di dalam air sudah dalam bentuk terdestabilisasi. Destabilisasi disini disebabkan oleh ion monovalen (valensi 1) dan divalen (valensi 2) yang berada di dalam air. Kejadian ini dinamakan “Koagulasi elektrostatik”, sedangkan koagulasi kimiawi adalah suatu proses dimana zat kimia seperti garam Fe dan Al, ditambahkan ke dalam air untuk merubah bentuk (transformasi) zat-zat kotoran. Zat-zat tersebut akan bereaksi dengan hidrolisa garam-garam Fe atau Al menjadi flok dengan ukuran besar yang dapat dihilangkan secara mudah melalui sedimentasi dan filtrasi.
Pada sistem pengolahan air, koagulasi terjadi pada unit pengadukan cepat (flash mixing), karena koagulan harus tersebar secara cepat dan reaksi hidrolisa hanya terjadi dalam beberapa detik, jadi destabilisasi muatan negatip oleh muatan positip harus dilakukan dalam perioda waktu hanya beberapa detik
Nilai gradien kecepatan (G), waktu tinggal/detensi (td) dan kecepatan aliran air adalah jarang berubah selama instalasi pengolahan air berjalan.
Koagulasi
Penambahan bahan kimia (koagulan) pada proses koagulasi dengan pengadukan cepat, memberikan kesempatan kepada koagulan untuk membentuk inti flok yang berasal dari partikel koloid yang ada dalam contoh air. Proses koagulasi kemudian dilanjutkan dengan proses pengadukan lambat (flokulasi), dengan tujuan memberikan kesempatan bagi inti flok untuk saling bersentuhan sehingga terbentuk flok yang lebih besar yang siap untuk diendapkan. Proses berikutnya adalah pengendapan (sedimentasi) yang bertujuan untuk mengendapkan flok yang sudah terbentuk.
Faktor–faktor yang mempengaruhi koagulasi :
(1) Pemilihan bahan kimia
Pemilihan koagulan dan koagulan pembantu, merupakan suatu program lanjutan dari percobaan dan evaluasi yang biasanya menggunakan Jar test. Seorang operator dalam pengetesan untuk memilih bahan kimia, biasanya dilakukan di laboratorium. Untuk melaksanakan pemilihan bahan kimia, perlu pemeriksaan terhadap karakteristik air baku yang akan diolah yaitu :
• Suhu
• pH
• Alkalinitas
• Kekeruhan
• Warna
Efek karakteristik tersebut terhadap koagulan adalah sebagai berikut :
Suhu rendah berpengaruh terhadap daya koagulasi/flokulasi. Suhu dan memerlukan pemakaian bahan kimia berlebih, untuk mempertahankan hasil yang dapat diterima. Nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh pH terhadap koagulasi/flokulasi, pH optimum bervariasi tergantung jenis koagulan yang digunakan Alum sulfat dan ferri sulfat berinteraksi dengan zat alkalinitas kimia pembentuk alkalinitas dalam air, membentuk senyawa aluminium atau ferri hidroksida, memulai proses koagulasi. Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan koagulasi yang kurang baik, pada kasus demikian, mungkin memerlukan penambahan alkalinitas ke dalam air, melalui penambahan bahan kimia alkali/basa (kapur atau soda abu). Makin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flokKekeruhan yang baik. Makin sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel/flok, oleh sebab itu makin sedikit kesempatan flok berakumulasi. Operator harus menambah zat pemberat untuk menambah partikel-partikel untuk terjadinya tumbukan. Warna berindikasi kepada senyawa organik, dimana zat warna organik bereaksi dengan koagulan, menyebabkan proses koagulasi terganggu selama zat organik tersbut berada di dalam air baku dan proses koagulasi semakin sukar tercapai. Pengolahan pendahuluan terhadap air baku harus dilakukan untuk menghilangkan zat organik tersebut, dengan penambahan oksidan atau adsorben (karbon aktif).
Keefektifan koagulan atau flokulan akan berubah apabila karakteristik air baku berubah. Keefektifan bahan kimia koagulan/koagulan pembantu, dapat pula berubah untuk alasan yang tidak terlihat atau tidak diketahui, oleh karena itu ada beberapa faktor yang belum diketahui yang dapat mempengaruhi koagulasi–flokulasi. Untuk masalah demikian operator harus memilih bahan kimia terlebih dahulu, dengan menggunakan jar test dengan variasi bahan kimia, secara tunggal atau digabungkan atau dikombinasikan.
Jar–test secara subyektif masih merupakan uji yang paling banyak digunakan dalam mengontrol koagulasi dan tergantung semata-mata kepada penglihatan kita (secara visuil) untuk mengevaluasi suatu interpretasi/tafsiran. Selain itu seorang Operator juga harus melakukan pengukuran pH, kekeruhan, bilamana mungkin harus melakukan uji “filtrabilitas” dan “potensial zeta”.
(2) Penentuan dosis optimum koagulan
Untuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis optimum koagulan harus ditentukan. Dosis optimum mungkin bervariasi sesuai dengan karakteristik dan seluruh komposisi kimiawi di dalam air baku, tetapi biasanya dalam hal ini fluktuasi tidak besar, hanya pada saat-saat tertentu dimana terjadi perubahan kekeruhan yang drastis (waktu musim hujan/banjir) perlu penentuan dosis optimum berulang-ulang.
Perlu diingat bahwa hasil jar test tidak selalu sama dengan operasional di IPA, jadi harus dibuat koreksi dosis yang dihasilkan jar test dengan aplikasi dosis di IPA.
Seorang operator perlu membuat suatu grafik hubungan antara nilai kekeruhan vs dosis koagulan, melalui percobaan jar test untuk variasi nilai kekeruhan (rendah, sedang, tinggi) selama periode waktu minimal satu tahun atau dari data– data yang lalu selama beberapa tahun untuk sumber air baku yang sama. Sehingga dengan adanya grafik ini mempermudah penentuan dosis secara cepat jika ada perubahan kekeruhan secara tiba–tiba. Selanjutnya penentuan dosis dilanjutkan dengan melakukan jar test.
(3) Penentuan pH optimum
Penambahan garam aluminium atau garam besi, akan menurunkan pH air, disebabkan oleh reaksi hidrolisa garam tersebut, seperti yang telah diterangkan di atas. Koagulasi optimum bagaimanapun juga akan berlangsung pada nilai pH tertentu (pH optimum), dimana pH optimum harus ditetapkan dengan jar-test.
Untuk kasus tertentu (pada pH air baku rendah dan pada dosis koagulan yang relatif besar) dan untuk mempertahankan pH optimum, maka diperlukan koreksi pH pada proses koagulasi, dengan penambahan bahan alkali seperti : soda abu (Na2CO3), kapur (CaO) atau kapur hidrat {Ca(OH)2}. Dilakukan penentuan dosis alkali pada dosis optimum koagulan yang digunakan.
Flokulasi
Setelah proses koagulasi partikel-partikel terdestabilisasi dapat saling bertumbukan membentuk agregat sehingga terbentuk flok, tahap ini disebut ” Flokulasi “. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Dengan kata lain proses flokulasi adalah proses pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar (makroflok).
Terdapat 2 (dua) perbedaan pada proses flokulasi yaitu :
1. Flokulasi Perikinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran μm dengan mengandalkan gerakan Brownian. Biasanya koagulan ditambahkan untuk meningkatkan flokulasi perikinetik.
2. Flokulasi Ortokinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran di atas 1μm dimana gerakan Brownian diabaikan pada kecepatan tumbukan antar partikel, tetapi memerlukan pengaduk buatan (artificial mixing)
Setelah destabilisasi selesai mulai terbentuk agregasi partikel yang mana diameternya lebih kecil dari 1 mikrometer untuk sementara cuma bergerak berdasarkan difusi dan akan terjadi agregasi antar mereka. Dengan ukuran flok dan partikel yang semakin besar semakin penting terjadi agregasi yang disebabkan oleh ortokinetik, maka perbedaan kecepatan diantara partikel semakin besar, akan terjadi pembentukan flok. Dilain pihak jika flok terlalu besar tidak bisa menahan tekanan abrasi didalam air, artinya dengan nilai gradien kecepatan (G value) yang semakin besar ukuran flok rata-rata akan menurun. Untuk mempertahankan nilai G yang berhubungan dengan ukuran partikel, pada prakteknya dilakukan semacam pengadukan pendahuluan (premixing) dengan nilai G yang tinggi, kalau sudah terjadi flok, nilai G diturunkan. Semakin lama agregat akan menumpuk semakin banyak, tahap berikutnya nilai G diturunkan. Dalam beberapa instalasi, misalnya dari nilai G = 100/dt diturunkan menjadi 10/dt. Dengan demikian ada kesempatan untuk menentukan daya enersi yang akan dimasukkan ke dalam masing-masing tahap sesuai dengan kondisi air baku dan sesuai dengan sistem pemisahan yang akan dilakukan selanjutnya.
Jika ditinjau dari mekanisme tersebut di atas, maka pada proses flokulasi memerlukan waktu (yang dinyatakan oleh waktu tinggal/detensi = td, dalam detik) yaitu waktu untuk memberi kesempatan ukuran flok menjadi lebih besar dengan berbagai cara yang sudah diterangkan di atas. Disamping memperhatikan waktu, pada proses flokulasi diperhatikan pula kecepatan pengadukan (yang dinyatakan oleh gradien kecepatan = G, dalam dt−1). Kombinasi dari kedua hal penting tersebut, yaitu nilai G x td merupakan kriteria penting yang harus dipenuhi pada proses flokulasi. Nilai spesifik adalah : 104 − 105. Jika nilai spesifik G td dilampaui, maka flok yang sudah terbentuk akan pecah kembali, sebaliknya jika kurang dari nilai spesifik, maka flok tidak akan terbentuk seperti yang diharapkan.
Untuk menghasilkan flokulasi yang baik, maka perlu diperhatikan:
Nilai G : 20 – 70 dt−1
Waktu tinggal (waktu ditensi) : 20 – 50 menit.
Karena proses flokulasi ini memerlukan waktu, dan kecepatan yang relatif rendah, maka flokulasi dilakukan pada unit yang disebut “Pengadukan lambat” atau biasa disebut “Flokulator” dimana jenis pengadukan bisa berupa pengaduk mekanis atau hidraulik.
Dengan dosis koagulan/flokulan pembantu (0,1–1 mg/l) kestabilan flok bisa dipertahankan terhadap abrasi yang menjadi lebih besar dengan adanya flokulan pembantu. Penambahan koagulan/flokulan pembantu yaitu jenis polimer, flok yang terbentuk akan lebih besar pada nilai G (gradien kecepatan) yang sama. Harus ada selisih waktu antara pembubuhan koagulan/flokulan pembantu dengan pembubuhan koagulan (misalnya Al3+ atau Fe3+). Pembubuhan koagulan/flokulan pembantu paling sedikit 30 dtk setelah pembubuhan koagulan.
Jika polimer dibubuhkan terlalu awal, kebutuhannya bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan adanya selisih waktu diantara kedua pembubuhan tersebut di atas. Jika dicampur dengan efisien, pemakaian koagulan/flokulan pembantu akan lebih baik.
Efisiensi dari proses flokulasi pada prakteknya seringkali dapat dilihat dari kualitas air setelah dilakukan pemisahan flok secara mekanik. Dengan demikian, cara pemisahan zat padat atau flok sangat penting dan sangat dipengaruhi oleh bentuk flok yang ada, misalnya untuk melakukan flotasi diperlukan bentuk flok yang lain berbeda dengan flok untuk sedimentasi. Jika dipakai sedimentasi diperlukan flok dengan berat jenis dan diameter yang besar. Pada proses flotasi dibutuhkan flok yang lebih kecil dan mempunya berat jenis yang lebih ringan tetapi mempunyai sifat untuk bergabung dengan gelembung udara. Untuk filtrasi dibutuhkan flok yang kompak yang cukup homogen dengan struktur yang kuat terhadap abrasi dan dengan sifat mudah melekat diatas partikel media penyaring (filter) untuk menjamin pemisahan yang efisien dan operasional penyaringan yang ekonomis.
Untuk efek penjernihan air secara keseluruhan, belum cukup apakah flok bisa dipisahkan dari air secara efektif, karena belum dapat menjamin dengan pasti apakah kualitas air yang diinginkan bisa tercapai hanya dengan kondisi ini saja. Selain itu dibutuhkan bahwa semua zat yang akan dihilangkan dari air juga melekat pada flok.
Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti misalnya :
1. Waktu flokulasi,
2. Jumlah energi yang diberikan
3. Jumlah koagulan
4. Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu
5. Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu
6. Resirkulasi sebagian lumpur (jika memungkinkan)
7. Penetapan pH pada proses koagulasi
Sedimentasi
Pada pengolahan air, proses sedimentasi normal tidak selalu menurunkan partikel secara efisien. Khususnya pada kasus percobaan untuk menghilangkan partikel dengan diameter kurang dari 50μm.
1. Destabilisasi muatan negatip partikel oleh muatan positip dari koagulan
2. Tumbukan antar partikel
3. Adsorpsi
Selain tumbukan antar partikel terdestabilisasi/mikroflok yang bertujuan membentuk flok dengan ukuran yang relatif besar (makroflok), adsorpsi merupakan mekanisme flokulasi diantaranya dilakukan oleh Al(OH)3, aluminium hidroksida yaitu bentuk hidroksida Al, hasil reaksi hidrolisa Al dengan air. Senyawa ini berbentuk agar-agar (jelly) yang mempunyai sifat “adsorpsi (menyerap di permukaan).
Jika kekuatan ionik di dalam air cukup besar, maka keberadaan koloid di dalam air sudah dalam bentuk terdestabilisasi. Destabilisasi disini disebabkan oleh ion monovalen (valensi 1) dan divalen (valensi 2) yang berada di dalam air. Kejadian ini dinamakan “Koagulasi elektrostatik”, sedangkan koagulasi kimiawi adalah suatu proses dimana zat kimia seperti garam Fe dan Al, ditambahkan ke dalam air untuk merubah bentuk (transformasi) zat-zat kotoran. Zat-zat tersebut akan bereaksi dengan hidrolisa garam-garam Fe atau Al menjadi flok dengan ukuran besar yang dapat dihilangkan secara mudah melalui sedimentasi dan filtrasi.
Pada sistem pengolahan air, koagulasi terjadi pada unit pengadukan cepat (flash mixing), karena koagulan harus tersebar secara cepat dan reaksi hidrolisa hanya terjadi dalam beberapa detik, jadi destabilisasi muatan negatip oleh muatan positip harus dilakukan dalam perioda waktu hanya beberapa detik
Nilai gradien kecepatan (G), waktu tinggal/detensi (td) dan kecepatan aliran air adalah jarang berubah selama instalasi pengolahan air berjalan.
Koagulasi
Penambahan bahan kimia (koagulan) pada proses koagulasi dengan pengadukan cepat, memberikan kesempatan kepada koagulan untuk membentuk inti flok yang berasal dari partikel koloid yang ada dalam contoh air. Proses koagulasi kemudian dilanjutkan dengan proses pengadukan lambat (flokulasi), dengan tujuan memberikan kesempatan bagi inti flok untuk saling bersentuhan sehingga terbentuk flok yang lebih besar yang siap untuk diendapkan. Proses berikutnya adalah pengendapan (sedimentasi) yang bertujuan untuk mengendapkan flok yang sudah terbentuk.
Faktor–faktor yang mempengaruhi koagulasi :
(1) Pemilihan bahan kimia
Pemilihan koagulan dan koagulan pembantu, merupakan suatu program lanjutan dari percobaan dan evaluasi yang biasanya menggunakan Jar test. Seorang operator dalam pengetesan untuk memilih bahan kimia, biasanya dilakukan di laboratorium. Untuk melaksanakan pemilihan bahan kimia, perlu pemeriksaan terhadap karakteristik air baku yang akan diolah yaitu :
• Suhu
• pH
• Alkalinitas
• Kekeruhan
• Warna
Efek karakteristik tersebut terhadap koagulan adalah sebagai berikut :
Suhu rendah berpengaruh terhadap daya koagulasi/flokulasi. Suhu dan memerlukan pemakaian bahan kimia berlebih, untuk mempertahankan hasil yang dapat diterima. Nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh pH terhadap koagulasi/flokulasi, pH optimum bervariasi tergantung jenis koagulan yang digunakan Alum sulfat dan ferri sulfat berinteraksi dengan zat alkalinitas kimia pembentuk alkalinitas dalam air, membentuk senyawa aluminium atau ferri hidroksida, memulai proses koagulasi. Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan koagulasi yang kurang baik, pada kasus demikian, mungkin memerlukan penambahan alkalinitas ke dalam air, melalui penambahan bahan kimia alkali/basa (kapur atau soda abu). Makin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flokKekeruhan yang baik. Makin sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel/flok, oleh sebab itu makin sedikit kesempatan flok berakumulasi. Operator harus menambah zat pemberat untuk menambah partikel-partikel untuk terjadinya tumbukan. Warna berindikasi kepada senyawa organik, dimana zat warna organik bereaksi dengan koagulan, menyebabkan proses koagulasi terganggu selama zat organik tersbut berada di dalam air baku dan proses koagulasi semakin sukar tercapai. Pengolahan pendahuluan terhadap air baku harus dilakukan untuk menghilangkan zat organik tersebut, dengan penambahan oksidan atau adsorben (karbon aktif).
Keefektifan koagulan atau flokulan akan berubah apabila karakteristik air baku berubah. Keefektifan bahan kimia koagulan/koagulan pembantu, dapat pula berubah untuk alasan yang tidak terlihat atau tidak diketahui, oleh karena itu ada beberapa faktor yang belum diketahui yang dapat mempengaruhi koagulasi–flokulasi. Untuk masalah demikian operator harus memilih bahan kimia terlebih dahulu, dengan menggunakan jar test dengan variasi bahan kimia, secara tunggal atau digabungkan atau dikombinasikan.
Jar–test secara subyektif masih merupakan uji yang paling banyak digunakan dalam mengontrol koagulasi dan tergantung semata-mata kepada penglihatan kita (secara visuil) untuk mengevaluasi suatu interpretasi/tafsiran. Selain itu seorang Operator juga harus melakukan pengukuran pH, kekeruhan, bilamana mungkin harus melakukan uji “filtrabilitas” dan “potensial zeta”.
(2) Penentuan dosis optimum koagulan
Untuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis optimum koagulan harus ditentukan. Dosis optimum mungkin bervariasi sesuai dengan karakteristik dan seluruh komposisi kimiawi di dalam air baku, tetapi biasanya dalam hal ini fluktuasi tidak besar, hanya pada saat-saat tertentu dimana terjadi perubahan kekeruhan yang drastis (waktu musim hujan/banjir) perlu penentuan dosis optimum berulang-ulang.
Perlu diingat bahwa hasil jar test tidak selalu sama dengan operasional di IPA, jadi harus dibuat koreksi dosis yang dihasilkan jar test dengan aplikasi dosis di IPA.
Seorang operator perlu membuat suatu grafik hubungan antara nilai kekeruhan vs dosis koagulan, melalui percobaan jar test untuk variasi nilai kekeruhan (rendah, sedang, tinggi) selama periode waktu minimal satu tahun atau dari data– data yang lalu selama beberapa tahun untuk sumber air baku yang sama. Sehingga dengan adanya grafik ini mempermudah penentuan dosis secara cepat jika ada perubahan kekeruhan secara tiba–tiba. Selanjutnya penentuan dosis dilanjutkan dengan melakukan jar test.
(3) Penentuan pH optimum
Penambahan garam aluminium atau garam besi, akan menurunkan pH air, disebabkan oleh reaksi hidrolisa garam tersebut, seperti yang telah diterangkan di atas. Koagulasi optimum bagaimanapun juga akan berlangsung pada nilai pH tertentu (pH optimum), dimana pH optimum harus ditetapkan dengan jar-test.
Untuk kasus tertentu (pada pH air baku rendah dan pada dosis koagulan yang relatif besar) dan untuk mempertahankan pH optimum, maka diperlukan koreksi pH pada proses koagulasi, dengan penambahan bahan alkali seperti : soda abu (Na2CO3), kapur (CaO) atau kapur hidrat {Ca(OH)2}. Dilakukan penentuan dosis alkali pada dosis optimum koagulan yang digunakan.
Flokulasi
Setelah proses koagulasi partikel-partikel terdestabilisasi dapat saling bertumbukan membentuk agregat sehingga terbentuk flok, tahap ini disebut ” Flokulasi “. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Dengan kata lain proses flokulasi adalah proses pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar (makroflok).
Terdapat 2 (dua) perbedaan pada proses flokulasi yaitu :
1. Flokulasi Perikinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran μm dengan mengandalkan gerakan Brownian. Biasanya koagulan ditambahkan untuk meningkatkan flokulasi perikinetik.
2. Flokulasi Ortokinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran di atas 1μm dimana gerakan Brownian diabaikan pada kecepatan tumbukan antar partikel, tetapi memerlukan pengaduk buatan (artificial mixing)
Setelah destabilisasi selesai mulai terbentuk agregasi partikel yang mana diameternya lebih kecil dari 1 mikrometer untuk sementara cuma bergerak berdasarkan difusi dan akan terjadi agregasi antar mereka. Dengan ukuran flok dan partikel yang semakin besar semakin penting terjadi agregasi yang disebabkan oleh ortokinetik, maka perbedaan kecepatan diantara partikel semakin besar, akan terjadi pembentukan flok. Dilain pihak jika flok terlalu besar tidak bisa menahan tekanan abrasi didalam air, artinya dengan nilai gradien kecepatan (G value) yang semakin besar ukuran flok rata-rata akan menurun. Untuk mempertahankan nilai G yang berhubungan dengan ukuran partikel, pada prakteknya dilakukan semacam pengadukan pendahuluan (premixing) dengan nilai G yang tinggi, kalau sudah terjadi flok, nilai G diturunkan. Semakin lama agregat akan menumpuk semakin banyak, tahap berikutnya nilai G diturunkan. Dalam beberapa instalasi, misalnya dari nilai G = 100/dt diturunkan menjadi 10/dt. Dengan demikian ada kesempatan untuk menentukan daya enersi yang akan dimasukkan ke dalam masing-masing tahap sesuai dengan kondisi air baku dan sesuai dengan sistem pemisahan yang akan dilakukan selanjutnya.
Jika ditinjau dari mekanisme tersebut di atas, maka pada proses flokulasi memerlukan waktu (yang dinyatakan oleh waktu tinggal/detensi = td, dalam detik) yaitu waktu untuk memberi kesempatan ukuran flok menjadi lebih besar dengan berbagai cara yang sudah diterangkan di atas. Disamping memperhatikan waktu, pada proses flokulasi diperhatikan pula kecepatan pengadukan (yang dinyatakan oleh gradien kecepatan = G, dalam dt−1). Kombinasi dari kedua hal penting tersebut, yaitu nilai G x td merupakan kriteria penting yang harus dipenuhi pada proses flokulasi. Nilai spesifik adalah : 104 − 105. Jika nilai spesifik G td dilampaui, maka flok yang sudah terbentuk akan pecah kembali, sebaliknya jika kurang dari nilai spesifik, maka flok tidak akan terbentuk seperti yang diharapkan.
Untuk menghasilkan flokulasi yang baik, maka perlu diperhatikan:
Nilai G : 20 – 70 dt−1
Waktu tinggal (waktu ditensi) : 20 – 50 menit.
Karena proses flokulasi ini memerlukan waktu, dan kecepatan yang relatif rendah, maka flokulasi dilakukan pada unit yang disebut “Pengadukan lambat” atau biasa disebut “Flokulator” dimana jenis pengadukan bisa berupa pengaduk mekanis atau hidraulik.
Dengan dosis koagulan/flokulan pembantu (0,1–1 mg/l) kestabilan flok bisa dipertahankan terhadap abrasi yang menjadi lebih besar dengan adanya flokulan pembantu. Penambahan koagulan/flokulan pembantu yaitu jenis polimer, flok yang terbentuk akan lebih besar pada nilai G (gradien kecepatan) yang sama. Harus ada selisih waktu antara pembubuhan koagulan/flokulan pembantu dengan pembubuhan koagulan (misalnya Al3+ atau Fe3+). Pembubuhan koagulan/flokulan pembantu paling sedikit 30 dtk setelah pembubuhan koagulan.
Jika polimer dibubuhkan terlalu awal, kebutuhannya bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan adanya selisih waktu diantara kedua pembubuhan tersebut di atas. Jika dicampur dengan efisien, pemakaian koagulan/flokulan pembantu akan lebih baik.
Efisiensi dari proses flokulasi pada prakteknya seringkali dapat dilihat dari kualitas air setelah dilakukan pemisahan flok secara mekanik. Dengan demikian, cara pemisahan zat padat atau flok sangat penting dan sangat dipengaruhi oleh bentuk flok yang ada, misalnya untuk melakukan flotasi diperlukan bentuk flok yang lain berbeda dengan flok untuk sedimentasi. Jika dipakai sedimentasi diperlukan flok dengan berat jenis dan diameter yang besar. Pada proses flotasi dibutuhkan flok yang lebih kecil dan mempunya berat jenis yang lebih ringan tetapi mempunyai sifat untuk bergabung dengan gelembung udara. Untuk filtrasi dibutuhkan flok yang kompak yang cukup homogen dengan struktur yang kuat terhadap abrasi dan dengan sifat mudah melekat diatas partikel media penyaring (filter) untuk menjamin pemisahan yang efisien dan operasional penyaringan yang ekonomis.
Untuk efek penjernihan air secara keseluruhan, belum cukup apakah flok bisa dipisahkan dari air secara efektif, karena belum dapat menjamin dengan pasti apakah kualitas air yang diinginkan bisa tercapai hanya dengan kondisi ini saja. Selain itu dibutuhkan bahwa semua zat yang akan dihilangkan dari air juga melekat pada flok.
Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti misalnya :
1. Waktu flokulasi,
2. Jumlah energi yang diberikan
3. Jumlah koagulan
4. Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu
5. Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu
6. Resirkulasi sebagian lumpur (jika memungkinkan)
7. Penetapan pH pada proses koagulasi
Sedimentasi
Pada pengolahan air, proses sedimentasi normal tidak selalu menurunkan partikel secara efisien. Khususnya pada kasus percobaan untuk menghilangkan partikel dengan diameter kurang dari 50μm.
Langganan:
Postingan (Atom)
Energi (kehidupan)
Apa yang kita ketahui tentang definisi energi? Secara terminologi, banyak definisi energi yang bisa kita ambil. Seperti yang saya ambil da...
-
Bendungan Jatigede merupakan bendungan yang berlokasi di Desa Cijeunjing, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang. Suatu desa yang amat indah...
-
Material recovery facility merupakan subuah bangunan yang digunakan untuk menerima, memilah, memroses dan minyimpan bahan daur ulang untuk d...
-
Kompos sebagai hasil dari pengomposan dan merupakan salah satu pupuk organik yang memiliki fungsi penting terutama dalam bidang pertanian an...